Yohanes Gabriel, Siapa Dia?

Yohanes Gabriel, Siapa Dia?

YOHANES GABRIEL PERBOYRE

Misionaris dan Martir (1802-1840)

[Diterjemahkan dari: N.S. Rossiter, CM., Some Vincentian Missionaries”, 1955. Dikutip dari majalah Serikat Kecil, no. 19 Th. VII September-Desember 1992]

Santo Martir “Yohanes Gabriel” adalah seorang misionaris CM yang berkarya di Cina. Dalam perjalanannya ke Cina, Yohanes Gabriel Perboyre CM, mampir di Surabaya selama satu bulan tahun 1835. Ia menulis surat kepada pamannya, yang juga seorang imam CM, “Surabaya sungguh indah.” Ia mengucapkan Ekaristi di Gereja Katolik pertama (di sekitar jalan Cenderawasih). Ia juga sempat dolan ke Madura. Namanya dipakai oleh para misionaris perintis keuskupan Surabaya untuk karya pendidikan, tetapi pada awalnya untuk semua karya misioner (termasuk kesehatan, karya sosial, pendidikan, dll.). Sebab, para romo CM pertama memandang misi mereka untuk melanjutkan “jejak misioner” Sang Santo Martir. Siapakah dia?

 

Yohanes Gabriel Perboyre lahir pada tanggal 6 Januari 1802, pada pesta penampakan Tuhan, dan pada usia 38 tahun, yaitu pada tanggal 11 September 1840 menjadi martir di Cina.

Dia adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Tempat kelahirannya sebuah rumah tua di Puech, kampung yang termasuk paroki Montgesty, dalam wilayah keuskupan Cahors di Prancis selatan. Sehari setelah kelahirannya, dia menerima Sakramen Baptis dengan nama Yohanes Gabriel. Ayahnya seorang petani yang mengolah sebidang tanah yang kurang subur: gandum, jawawut dan anggur tumbuh di tanah yang berbatu. Selain itu ayahnya memelihara juga beberapa ekor domba untuk keperluan keluarganya.

Karena perang Napoleon menghancurkan negara, para petani pada waktu itu bukanlah orang yang kaya, dan karenanya setiap anggota keluarga harus ikut membantu baik dalam pekerjaan di rumah maupun dalam mengelola tanah miliknya. Maka ketika Yohanes Gabriel sudah dianggap cukup kuat, ia mengerjakan apa yang dapat ia kerjakan, seperti menabur benih, menyiapkan tanaman anggur, mengumpulkan panenan, menjaga domba serta belajar kerajinan tangan. Bila kegiatan pertanian agak sepi karena musim dingin, Yohanes Gabriel pergi ke sekolah di kampungnya. Para imam setempat berusaha memberi pelajaran kepada anak-anak yang mau datang ke Paroki, karena sekolah-sekolah resmi sulit dipulihkan kembali dari kehancuran di zaman revolusi.

Di sana-sini Seminari Menengah dibuka kembali guna mempersiapkan tenaga imam yang waktu itu memang masih kurang. Romo Jacques Perboyre CM, paman Yohanes Gabriel, saat itu menjadi pimpinan Seminari Persiapan di Mountauban di sebuah biara Karmel. Selama masa revolusi, lebih-lebih selama masa yang dinamakan Terror, dia berlindung di gua-gua sambil melayani umat secara sembunyi-sembunyi setelah dikejar oleh pengawal revolusi di Seminari Albi. Sehabis masa sulit itu, sambil menunggu saat para imam CM yang terpencar-pencar dikumpulkan kembali, dia memberi pelayanannya kepada Uskup, sampai akhirnya memimpin Seminari itu.

Louis, kakaknya Yohanes Gabriel, masuk seminari ini pada tahun 1816 dan Yohanes Gabriel dikirim untuk menemaninya selama musim dingin.

 

PANGGILAN IMAMAT

Ketika musim semi tiba, Yohanes harus kembali bekerja sebagai petani. Pamannya berpikir bahwa dia seharusnya tetap melanjutkan studinya karena nampaknya memiliki panggilan untuk menjadi imam. Meskipun pada awalnya merencanakan untuk tinggal bersama ayahnya dan mewarisi tanah milik keluarga, Yohanes Gabriel yang pada waktu itu berusia empat belas tahun, berdoa dan berpikir mengenai masa depannya. Dalam tahun itu juga dia menulis kepada ayahnya bahwa ia ingin menjadi imam.


Hal ini tidaklah mengejutkan keluarga Perboyre, karena sudah banyak yang menjadi imam dari antara mereka. Apalagi sekitar tahun-tahun itu, sekurang-kurangnya tujuh belas saudara sepupunya telah mengalami asuhan Jacques, paman mereka, di Seminari Montauban. Keputusannya itu tidak mendapat perlawanan. Orang tuanya, orang yang taat beragama, menyadari betapa tingginya nilai rahmat Allah yang ditawarkan kepada mereka dengan memanggil anak-anak mereka untuk suatu pelayanan khusus. Kenyataannya, mereka merelakan tiga anak laki-laki untuk menjadi imam CM dan dua anak perempuan untuk bergabung dalam komunitas Puteri Kasih yang didirikan oleh S. Vinsensius, sementara seorang lagi, yang telah mati muda, ingin bergabung dengan Suster Karmelites. Dari semua anak keluarga Perboyre, dua putra dan seorang puteri membaktikan hidup untuk karya Misi di Cina.

 

PANGGILAN SEBAGAI IMAM CM

Masa studinya selama dua tahun ditandai dengan kesalehan yang sejati; dia rajin menerima Sakramen Tobat dan Ekaristi, sampai-sampai dia diberi gelar Asanto kecil@. Dalam studi pun ia amat serius, hingga mencapai standar yang sejajar dengan mereka yang lebih lama belajar di asrama. Sementara itu ia aktif ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan asrama, seperti pertandingan, jalan-jalan di pedesaan, kelompok diskusi, dan ain-lain. Dia lebih pandai daripada saudaranya Louis, dan pada akhir tahun 1818 dia meminta diterima sebagai anggota komunitas Vinsensius.

Pamannya menanamkan dalam diri Yohanes Gabriel keinginan untuk menjadi rasul di Cina, suatu cita-cita yang dikejarnya sendiri, tetapi tanpa hasil. Memang para imam Vinsensian waktu itu melayani wilayah misi yang luas di sana. Kongregasi Misi baru saja bangkit dari keruntuhannya akibat revolusi di seluruh Eropa dan belakangan telah memperoleh sebuah rumah di jalan de Sevres di Paris, sebagai markas besarnya, untuk menggantikan rumah lama Saint-Lazare, tempat tinggal Santo Vinsensius sendiri, yang telah dirampas oleh pemerintah republik.

 

NOVISIAT DAN STUDI

Rumah baru tersebut seharusnya menjadi tempat novisiat bagi Yohanes Gabriel. Tetapi karena ternyata rumah itu belum berfungsi secara penuh, ia tetap tinggal di Seminari Mountauban selama dua tahun, khusus untuk mempersiapkan diri menjadi anggota penuh dalam komunitas yang baru bangkit lagi itu. Dia menghabiskan banyak waktu untuk doa dan matiraga, untuk mengembangkan kasih dan semangat berkorban. Dia berjuang juga untuk mencocokkan pandangan dan tindakannya dengan teladan  Santo Vinsensius, sebagai cermin hidup Tuhan sendiri. Masa pendidikan ini bertujuan untuk memberi dia dasar keutamaan yang kokoh dan memperkenalkan kepadanya pengabdian yang total kepada Allah dan sesama.

Akhirnya pada tanggal 28 Desember 1820, dia diijinkan mengucapkan kaul privat yang lazim dalam Kongregasi Misi dan dengan demikian dia diterima sebagai anggota untuk selamanya. Pada tahun itu juga, seorang Vinsensian lain, François-Regis Clet, menjadi martir demi iman di Cina. Selanjutnya Yohanes Gabriel dipanggil ke rumah induk di Paris untuk meneruskan studinya.

Setelah perjalanan selama tiga hari dengan kereta, sampailah dia di Paris, di tengah-tengah para Vinsensian senior yang berhimpun lagi bersama beberapa calon muda untuk mulai membangun kembali Kongregasi mereka yang telah hancur. Dalam studinya, Yohanes Gabriel mempelajari kemahakuasaan Tuhan Pencipta, sebagaimana diwahyukanNya sendiri, serta hubunganNya dengan manusia. Tetapi bagi Yohanes Gabriel studi itu tidak hanya merupakan suatu kesibukan ilmiah. Lebih dari itu dia dituntun kepada sikap hormat dan cinta yang semakin nyata terhadap Pencipta dan Penebusnya; sekaligus dia mendapat dorongan dalam panggilannya, khususnya dorongan untuk mengejar kesucian pribadi yang lebih tinggi. Dan dengan kehendak yang menggebu-gebu, ia berhasrat untuk menyebarkan buah-buah penebusan bagi jiwa-jiwa, terutama bagi mereka yang jauh di Cina.

 

PENGALAMAN SEBAGAI GURU


Dia masih terlalu muda untuk ditahbiskan sebagai imam pada saat ia menyelesaikan studinya. Sebagai Subdiakon, dia ditugaskan di suatu kolese di Mountauban untuk mengajar beberapa siswa di kelas VI. Keahliannya sebagai seorang guru dan pemahamannya tentang kepribadian anak membuat dia sukses dalam pekerjaannya. Dia menaruh perhatian khusus pada pendidikan keagamaan mereka dan membentuk bagi mereka sebuah Perkumpulan para Malaikat Suci, sebagai padanannya dari Perkumpulan Anak-anak Maria.

Tahun berikutnya, setelah ditahbiskan sebagai diakon oleh Uskup Agung Paris Mgr. de Quelen, dia dipilih untuk mengajar filsafat di Montdidier. Dalam tugas ini dia menunjukkan kecemerlangan pikirannya dan sikapnya yang bijaksana dalam mengambil jarak dari ajaran tidak sehat yang merajalela di Perguruan Tinggi waktu itu. Sebagai pekerjaan praktis bagi murid-muridnya, dia membagi mereka dalam kelompok-kelompok untuk mengunjungi keluarga-keluarga miskin dan membagikan makanan dan pakaian yang pantas serta uang yang dikumpulkan di rumah sebagai denda bagi mereka yang melanggar peraturan. Hal ini mengantisipasi perkumpulan yang akan dirintis oleh Frederic Ozanam.

 

TAHBISAN IMAM

Sementara itu, dia bersiap-siap untuk menerima tahbisan imam, sesuatu yang dia hargai sedemikian luhur. Penghargaan itu tumbuh seiring dengan tahun-tahun selama ia terlibat langsung dalam tugas-tugas suci, yang menyerupai tugas Kristus sendiri. Pada tanggal 23 September 1826, yaitu pada hari ulang tahun tahbisan Santo Vinsensius de Paul, dia ditahbiskan sebagai imam oleh Uskup Guillaume du Bourg, dari Keuskupan New Orleans Amerika. Itu terjadi di Kapel Rumah Pusat Suster Puteri Kasih di Paris. Misa pertamanya dipersembahkannya di kapel itu juga, pada altar tempat jasad Santo Vinsensius dihormati, saat itu. Di kapel ini jugalah Bunda kita Yang Terpuji akan menampakkan medali wasiat kepada Santa Katarina Laboure, empat tahun kemudian.

Louis, saudaranya, adalah satu-satunya anggota keluarga yang hadir pada misa pertamanya itu. Tetapi hal itu tidak menghalangi anggota-anggota keluarga yang lain untuk ikut ambil bagian dalam sukacita penuh syukur yang dialami oleh anak atau saudara mereka itu.

Yohanes Gabriel merasa dirinya siap untuk dikirim ke Cina. Ternyata malah dia ditugaskan mengajar teologi di Seminari Saint-Flour. Waktu itu tidaklah mudah mencari dosen yang pantas; dan meskipun dia masih muda, superiornya menilai dia cukup bijaksana dan hati-hati untuk ikut ambil bagian dalam pendidikan para calon imam. Kuliah-kuliahnya, yang berhubungan dengan hal-hal kudus, dipersiapkannya dengan cara yang kudus pula; maka jelaslah bahwa bahan yang dia ajarkan bersumber pada doa seperti juga pada studi.

 

PEMIMPIN KOLESE

Para superiornya telah mengamati pengaruh Yohanes Gabriel yang demikian kuat terhadap murid-muridnya dan ketrampilannya sebagai pemimpin. Maka dalam tahun 1827 dia dipindahkan dari Seminari dan ditugaskan di satu Kolese yang disertai asrama di Saint-Flour. Di situ dia bersama dengan dua imam muda yang lain, membimbing tiga puluh siswa yang mengikuti pelajaran di College Royale.

Kontak dengan pemikiran politis yang diajarkan di Perguruan Tinggi dan dengan semangat liberalisme yang sangat berpengaruh pada waktu itu, membuat generasi muda sulit dikendalikan. Namun secara halus tetapi tegas dia menjaga keteraturan dan ketekunan siswa-siswa dalam studi. Kepercayaan orang kepadanya sedemikian tinggi sehingga setelah empat tahun menjadi pimpinan,  jumlah siswa meningkat sampai hampir dua ratus orang dan untuk itu dibutuhkan penyesuaian lebih lanjut. Akan tetapi, pekerjaan dan perhatian untuk kolese itu terlalu berat bagi kesehatannya. Dan karena  merasa tidak mampu mengelola karya yang demikian penting itu, ia mohon agar diganti saja.


KEMATIAN LOUIS SAUDARANYA

Peristiwa yang lain membawa pengaruh mendalam terhadap dirinya selama periode ini. Saudaranya Louis ditahbiskan pada tahun 1830 dan dipilih untuk misi ke Cina, namun dia meninggal dalam perjalanan laut, antara pantai Jawa dan Australia. Panggilan Yohanes Gabriel ke Cina bangkit lagi, dan dia dengan segera minta untuk pergi dan menggantikan saudaranya. “Mengapa saya tidak dapat pergi dan menebus dosa-dosa dengan menjadi martir, seperti telah dirindukan dengan sangat oleh Louis?” dia menulis kepada pamannya. Cita-cita itu merupakan kerinduan yang tak pernah hilang dalam dirinya.

 

PEMBIMBING ROHANI

Bagaimanapun, menjelang akhir tahun 1832, Romo Perboyre dipindahkan dari daerah ke Ibukota Paris untuk menjadi wakil pembimbing rohani seminari kongregasinya. Dengan demikian Yohanes Gabriel mendapat tugas yang sangat penting, yaitu membentuk generasi baru putera-putera Vinsensius dan membimbing mereka kepada keutamaan dan karya yang merupakan ciri khas panggilan mereka. Allah memberkati karyanya ini, dan semangat Santo Vinsensius itu tumbuh dengan kokoh dalam diri para seminarisnya karena Yohanes Gabriel membimbing mereka dalam hidup doa  dan matiraga. Semangat mereka ditumbuhkannya terutama melalui kerinduannya yang berkobar-kobar untuk menyelamatkan jiwa-jiwa.

Devosinya terhadap penderitaan Kristus dan terhadap Sakramen Mahakudus sangat menonjol. Suatu pagi, ketika mempersembahkan Misa, dia nampak terangkat dari tanah pada saat konsekrasi, wajahnya berseri-seri dan bercahaya, jiwanya mengalami ekstase. Usai Misa, dia kembali ke sakristi, dan murid yang telah melayani Misa dilarangnya menceritakan kepada siapapun, selama hidupnya, apa yang telah terjadi.

Beberapa teman sekelasnya dikirim ke Cina pada tahun 1833, tetapi tidak terdengar berita mengenai dirinya yang sebetulnya berhasrat untuk menemani mereka. Dua yang lain dikirim pada tahun 1835. Baru saat itu Yohanes Gabriel meminta Superior Jenderalnya untuk mengirim dirinya bersama mereka. ASaya berhasrat untuk pergi selama empat belas tahun terakhir, “dia berkata: “Justru untuk itulah saya datang ke Saint Lazare”. Tetapi dia diberi tahu bahwa tenaganya masih sangat dibutuhkan di tempat tugasnya. Tambah lagi kesehatannya terlalu lemah, sehingga kemungkinan besar dia akan mati di perjalanan, bila diutus ke Cina. Dokter Komunitas dimintai pendapatnya, dan ternyata dia juga secara tegas menentang rencana itu.

Untuk sementara Yohanes Gabriel memusatkan perhatiannya pada doa, dan pagi berikutnya, setelah satu malam suntuk tak dapat tidur, dokter memanggilnya untuk mengubah keputusannya, dan Superior Jenderal setuju untuk mengirim Romo Perboyre ke Cina. Saat itu tanggal 2 Februari, Pesta pengudusan Santa Perawan Maria di Bait Allah. Kepadanyalah dia selalu berterimakasih atas anugerah ini.

 

BERLAYAR KE TIMUR

Karena itu, setelah acara perpisahan yang mengharukan dengan para konfraternya, Yohanes Gabriel berangkat, naik kereta dari Paris ke Le Havre, dan pada tanggal 16 Maret, naik kapal “Edmond” dengan tujuh pastor lain. Setelah mabuk laut pertama kalinya di selat Calais dan di teluk Biscaie, para misionaris menikmati perjalanan panjang mereka melalui pesisir Spanyol, kepulauan Canary, dan mendarat di Tanjung Harapan.


Yohanes Gabriel adalah seorang penulis surat yang baik, dan sekarang pada saat semangatnya mencapai puncak dan kesehatannya membaik berkat perjalanan laut, dia mengirim banyak surat yang menggambarkan detail-detail perjalanannya, teman-teman sekapal, ikan-ikan dan khususnya ikan paus, pelabuhan-pelabuhan dan pulau-pulau, kehidupan rutin sehari-hari dan badai yang menerpa mereka.

Setelah dengan selamat mendarat di Batavia, mereka pindah ke kapal lain, singgah di Surabaya selama tiga minggu, kemudian berlayar ke pulau San Chan, tempat Santo Fransiskus Xaverius meninggal, dan selanjutnya mencapai pelabuhan Macao Portugis, di laut Cina Selatan, pada tanggal 29 Agustus 1835. Akhirnya Romo Perboyre tiba di pintu gerbang Cina.

 

CINA

Macao adalah pintu gerbang karya misi di Cina. Di sini ada rumah tempat para misionaris dapat belajar bahasa Cina dan dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat daerah yang akan mereka datangi. Di Macao ada sembilan imam CM Perancis dengan beberapa konfrater Cina dan lima belas novis Cina. Setelah empat bulan Yohanes Gabriel nampaknya sudah cukup siap untuk menghadapi karya kerasulan selanjutnya.

“Saya sehat dan gembira,” dia menulis kepada saudaranya Jacques. “Jika kamu dapat melihatku sekarang, saya akan menjadi sebuah pandangan yang menarik. Bayangkan saya dengan pakaian Cina, kepala gundul, kucir dan kumis panjang, sambil berbicara dalam bahasa baruku yang pelat dan makan dengan supit sebagai ganti pisau, garpu dan sendok. Mereka mengatakan saya mirip sekali dengan orang Cina. Inilah awal kehidupan baru bagi kami: Menjadi segala-galanya bagi semua orang. Semoga kami, dengan jalan ini dapat merebut mereka semua untuk Kristus”. Akhirnya dia dipilih untuk melayani misi Ho-nan dan harus pergi ke sana melalui Hou-pe. Dengan demikian dia akan seperti terkubur di tengah dataran Cina bagian utara.

Pada waktu itu orang-orang asing dilarang keras memasuki Kekaisaran Cina, dengan ancaman hukuman mati. Maka, dengan penyamaran yang meyakinkan, dengan rambut agak pirang yang ditata sesuai adat Cina, dengan sebuah topi yang lebar, dengan payung dan selimut merah, Romo Perboyre yang cukup kecil itu mengambil tempatnya di sebuah kapal, dengan membawa banyak paket dan persediaan untuk pelayaran selama dua bulan. Karena keberangkatannya tergesa-gesa, pipa dan kipasnya tertinggal dalam kano yang mengantarkannya ke kapal. Selama sembilan minggu kapal yang ditumpanginya menyusuri pantai sambil menjadi sasaran empuk untuk angin dan ombak laut. Sementara itu Yohanes Gabriel meningkatkan ketrampilannya dalam bahasa Cina dan tetap berusaha untuk menjaga penyamarannya.

Setelah berlabuh di teluk Tougan, mereka menelusuri sungai sampai di Fokien. Di sini romo Yohanes merasa sudah tiba di daerah yang sudah lama diimpikannya. Tetapi dia masih harus melanjutkan perjalananya yang dilakukannya selama dua minggu, sebagian besar dengan berjalan kaki, dengan tetap berusaha menyembunyikan identitasnya. Untuk itu dia berlagak sebagai pedagang dan para pengantarnya selalu dibiarkan berbicara atas namanya. Melalui Pegunungan Bohea dia sampai di Nangchanfu. Dia naik sebuah perahu kecil lagi dan selama delapan belas hari melayari Yangt-sekiang (atau Sungai Biru) sampai Han-kow.

Sekarang dia berada di pusat propinsi Hou-pe, sedangkan di sebelah utaranya terdapat Propinsi Ho-nan, daerah yang telah disuburkan oleh pekerjaan dan penderitaan konfraternya yang suci, François-Regis Clet, dua puluh tahun sebelumnya. Dia hanya dapat berhenti selama satu hari dan  kemudian meneruskan perjalanan menyusuri sungai Hankiang. Naik perahu atau berjalan kaki, selama satu bulan Yohanes Gabriel bertemu dengan orang-orang Kristen sepanjang tepi sungai, memberi sakramen, memimpin upacara pemakaman. Setelah itu dia meninggalkan sungai dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Dalam tahap yang terakhir ini Romo kita melintasi daerah pegunungan dalam keadaan sangat payah.


“Setelah upaya dan jerih payah yang demikian besar”, dia menulis, “saya tiba dengan berjalan kaki di  gunung yang terakhir. Tetapi di sini saya merasa tidak berdaya lagi. Melihat gunung itu berdiri tegak di depan saya, saya ingat bahwa saya memakai salib kecil yang diperkaya dengan indulgensi seperti indulgensi Jalan Salib. Inilah kesempatan bagiku untuk mencoba dan menaklukkannya”.

“Selama beberapa jam saya berjalan pelan-pelan dengan bantuan payungku, sehingga saya tidak dapat menghindari lagi dari hujan. Saya duduk pada setiap batu yang aku jumpai di jalan, kemudian mulai memanjat lagi, kadang-kadang dengan menggunakan tangan. Jika kamu mengijinkan ungkapan ini, saya rela mendaki gunung itu dengan gigiku jika perlu, untuk mengejar tujuan yang telah ditentukan oleh Penyelenggaraan Ilahi bagiku … Akhirnya, saya mencapai puncak gunung yang menakutkan itu dan pada sisi lain bersembunyi di tengah hutan bambu, saya menemukan tempat tinggal kami dan dua konfrater yang menerimaku dengan tangan terbuka”.

Hal itu terjadi pada akhir Juni 1836, enam belas bulan setelah Yohanes Gabriel meninggalkan Perancis, sepuluh bulan sejak mencapai pesisir Cina dan delapan ribu mil dari rumahnya. Desa Kristen ini, dengan Gereja dan sekolah yang beratapkan jerami, memberi dia kesempatan untuk beristirahat selama dua minggu. Kemudian dia mulai perjalanannya yang terakhir ke Tsen-kiakang, dekat kota Nanyangfu di propinsi Ho-nan. Tahap terakhir ini membutuhkan empat hari dengan menunggang bagal. Itulah daerah misi yang sekarang dipercayakan kepadanya; inilah perwujudan panggilannya sebagai misionaris. Dia merasa juga sangat beruntung karena dia bertempat tinggal di rumah yang ditempati oleh Beato Clet, konfrater dan teladannya, ketika ditangkap dua puluh tahun sebelumnya.

 

BULAN-BULAN PERTAMA DI DAERAH MISI

Wilayah yang dipercayakan kepadanya meliputi hampir 50.000 mil persegi, dengan umat katolik yang berjumlah hanya enam ratus orang. Dengan bermodal kepercayaan kepada Penyelenggaraan Ilahi dan dengan bantuan tiga pastor CM asli Cina, dia siap untuk memulai pelayanannya.

“Kami harus memikul banyak pekerjaan dan banyak kesusahan juga”, tulisnya kepada ayahnya, “tetapi ini biasa di mana-mana; bagaimanapun juga kita harus memperoleh surga dengan keringat kita. Jika kita harus menjadi martir, ini adalah rahmat besar yang berasal dari kebaikan Tuhan. Dan rahmat itu harus dirindukan bukan ditakuti”.

Kesehatannya menurun akibat perjalan-perjalanannya yang sulit dan melelahkan serta makanan yang baru baginya dan tidak teratur. Karenanya dia diserang demam dan nampaknya pekerjaannya sebagai misionaris telah berakhir sebelum dimulai. Dia mendapat perminyakan suci dan setelah itu kesehatannya mulai pulih kembali, sehingga dalam bulan Desember dia mulai mengelilingi sebagian dari wilayah misinya untuk melayani umat. Dalam tahun itu dia berhasil mengunjungi seluruh wilayahnya.


Bila tidak berjalan kaki, dia melakukan kunjungan ke daerah naik kereta setempat yang kasar, di jalan buruk yang tidak memenuhi syarat. Para penumpang goyang mengikuti ayunan kereta. Dia dapat beristirahat di losmen yang miskin dan makan di mana saja ia dapat memperolehnya. Penguasaan bahasa sudah mulai memadai waktu itu. Setiap kali mengunjungi stasi baru, Yohanes Gabriel membuat sensus yang lengkap. Kunjungannya diisi dengan pelajaran agama dan ujian katekismus, yang dilanjutkan dengan Upacara Permandian dan Pengakuan Dosa serta Komuni Suci dalam Misa meriah. Dia memberi juga Sakramen Krisma dan memberkati perkawinan, memberi kotbah, mengembangkan devosi, mengunjungi orang sakit dan memeriksa pekerjaan para katekis. Di daerah itu ada sejumlah stasi yang imannya mulai melemah akibat penganiayaan atau kelaparan, atau karena kekurangan misionaris yang menetap di sana sejak zaman Beato Clet. Nah, banyak diantara stasi itu mulai kembali kepada iman yang baik; ibadat bersama serta perayaan-perayaan mendapat hidup yang segar. Semangat misionaris baru itu mulai menghasilkan buah-buahnya.

 

HOU-PE

Setelah bekerja selama delapan belas bulan di daerah itu, Romo Perboyre dipindahkan ke misi Tchayuenkow, di propinsi Hou-pe. Di situ terdapat Paroki yang luas dengan dua ribu orang katolik yang terbagi dalam lima belas kelompok. Pelayanan pastoral di situ meliputi doa pagi bersama secara teratur di Gereja, pelajaran agama, Misa kudus, kotbah, pembinaan kaum muda, sedangkan doa rosario dan jalan salib di sore hari, seperti juga pertemuan perkumpulan-perkumpulan. Secara khusus diselenggarakan suatu Konferensi dengan tema yang sudah ditentukan sebelumnya; para awam ikut mengambil bagian dalam pembicaraan sesuai dengan tugas masing-masing; misionaris tinggal memberi beberapa koreksi dan membuat ringkasan mengenai bahan yang telah dibicarakan.

Kunjungan yang harus dilakukan tidak dapat dihitung, banyak katekumen yang membutuhkan pelajaran agama; Sakramen Baptis dan Penguatan juga membutuhkan perhatian dan lain-lain. Inilah pelayanan sehari-hari yang dibutuhkan oleh umat yang sederhana itu. Bila tidak ada kesibukan, dia pergi ke stasi-stasi terpencil. Di sana selama musim semi Perboyre memberi tujuh belas Misi Umat yang masing-masing berlangsung selama beberapa hari.

Superiornya menulis tentang dia: “Dengan kesehatannya yang lemah, Romo Perboyre bertahan dengan baik dan mendaki gunung seperti kambing”.

Dalam perjalanan keliling di pelbagai stasi, Romo Perboyre menunjukkan kepekaan dan perhatian khusus bagi generasi muda yang memperlihatkan tanda panggilan untuk imamat. Mereka ini mendapat pelajaran dan latihan di Pastoran.

Pada masa inilah dia mendapat suatu pencobaan, yaitu semacam desolasi yang mendalam; dia merasa hidupnya gagal dan tidak menghasilkan apa-apa, seakan-akan dia tidak berguna dalam pekerjaan yang dipercayakan kepadanya; dia merasa pula bahwa doanya tidak berkenan di hadapan Allah dan karena semua ini dia memperkirakan akan menghadapi suatu penghakiman yang berat. Dia tidak dapat tidur maupun makan. Dia menjadi lebih kurus dan lemah. Itu merupakan kegelapan Gunung Zaitun sebelum jalan salibnya. Yohanes Gabriel mendapat penampakan Tuhan di atas kayu salib, Tuhan bersabda kepadanya: “Apakah yang kamu takutkan? Apakah Aku tidak mati untukmu? Ulurkanlah tanganmu ke dalam lambungku dan hentikan ketakutanmu akan kebinasaan kekal!” Setelah itu berakhirlah krisis batin itu, Romo Perboyre mulai bersemangat lagi dan bersiap untuk pencobaan panjang yang terakhir.

 

PENGEJARAN DAN PENANGKAPAN


Pada tahun 1839, setelah retret tahunannya, Yohanes Gabriel siap untuk mengelilingi lagi stasi-stasinya. Turne itu akan dimulai setelah tanggal 15 September. Empat misionaris yang lain telah berkumpul untuk makan malam hari itu, ketika disampaikan berita bahwa segerombolan mandarin dan serdadu sedang mendekat. Waktu itu keadaan pada umumnya damai dan sama sekali tidak ada tanda bahwa akan terjadi penganiayaan; jadi berita itu tidak dianggap tanda bahaya. Akan tetapi segera iring-iringan itu terlihat mendatangi kediaman mereka, dan waktunya sangat mendesak. Misionaris-misionaris yang lain melarikan diri kearah yang sama, tetapi Yohanes Gabriel mengambil arah yang berlawanan. Ternyata perang telah dinyatakan kepada orang-orang Kristen, dan ketika nama serta tempat tinggal para misionaris telah diketahui, perintah datang dari mandarin distrik itu untuk menangkap mereka. Mereka sangat marah ketika menemukan rumah para misionaris itu telah sepi; lalu mereka menjarah dan merusak rumah itu dan membakarnya bersama Gereja, serta memenjarakan beberapa murid laki-laki dan orang-orang Kristen yang lain, juga beberapa wanita; diantaranya seorang gadis bernama Anna Kao.

Yohanes Gabriel berusaha lari melalui rumpun-rumpun bambu yang tinggi dan bergabung dengan pastor Wang dan sekitar dua belas umat Kristen untuk bersembunyi hingga senja hari. Kemudian dia kembali ke rumah seorang katekisnya untuk bermalam. Pagi-pagi, dia dan rekan-rekannya pergi sejauh beberapa mil ke dalam hutan untuk menunggu malamnya lagi, sebelum mereka dapat mengadakan perjalanan lebih jauh dengan selamat.

Sementara itu tentara dan polisi menangkap seorang dari katekumen Yohanes Gabriel dan dengan disogok tiga puluh ons perak, dia mau menunjukkan pada mereka tempat persembunyian para buronan dalam sebuah lembah yang besar di tepi tanaman-tanaman yang rimbun. Tindakan pengkhianatan ini merupakan salah satu di antara banyak detail yang membuat penderitaan-penderitaan Yohanes Gabriel menyerupai penderitaan Tuhan kita dalam sengsaranya.

Yohanes Gabriel sedang berlutut untuk berdoa di samping tumpukan bambu ketika dua orang polisi mendapatkannya. Dia dipukul dan ditangkap serta diikat dalam sekejap mata. Salah seorang pengikutnya mencoba menyerang para serdadu, tetapi misionaris itu mencegahnya. Yang lain mencoba menyogok mereka dengan 200 ons perak bagi pembebasan Yohanes Gabriel, tetapi mereka menolak. Setelah diseret sampai ke puncak gunung, Romo Perboyre ditelanjangi sehingga dia hanya mengenakan baju yang kasar dan celana panjang yang mereka berikan padanya sebagai ganti. Setelah merantai tangan, kaki dan lehernya, mereka menggiringnya turun sejauh 4 mil sampai tempat tahanan-tahanan yang lain terkumpul.

 

PENGADILAN

Malam itu, sementara para serdadu berpesta karena keberhasilan mereka, empat orang Kristen melarikan diri, tetapi rantai yang membelenggu Romo Perboyre terlalu berat untuk mereka buka sehingga mereka melarikan diri tanpa dia. Hari itu tanggal 17 September. Paginya ia diinterogasi secara resmi oleh mandarin, dan secara terang-terangan ia mengakui statusnya sebagai orang Eropa, Imam Yesus Kristus yang datang ke Cina untuk menyebarkan agamaNya. Oleh karena itu ia ditawan secara resmi dan jalan menuju kemartirannya dimulai.

Sepanjang malam tangannya tergantung pada balok di langit-langit dan kaki jauh dari tanah. Para serdadu menjaganya secara ketat. Keesokan harinya ia hampir tidak dapat berjalan; pukulan-pukulan yang baru ia derita, bengkak-bengkak pada tangan dan kakinya dan kurangnya tidur membuat dia menjadi sangat lemah. Padahal hari itu dia harus berjalan dua belas jam menuju pengadilan yang lebih tinggi. Salah seorang dari orang-orang kafir itu, yaitu Liu-Kiu-Lin, dengan murah hati meminta supaya Yohanes Gabriel diangkut dengan sebuah kursi. Dia sendiri sanggup membiayai segalanya. Malah selama perjalanan, dia melayani Misionaris kita terus menerus. Imam yang menderita itu tidak akan melupakan kebaikannya.

Setelah satu interogasi resmi lagi di hadapan pengadilan sipil dan militer, dia dikirim ke pengadilan wilayah Siangyangfou, bersama sesama tawanan. Untuk sampai di sana diperlukan dua hari perjalanan kaki, padahal kaki, tangan dan lehernya masih terikat rantai yang dihubungkan pada sebuah palang besi yang dibengkokkan pada bahunya.

 

PENJARA


Di sini ia dikurung tersendiri, jauh dari teman-temannya, di kamar bawah tanah yang kotor. Dia diinterogasi lagi dan dengan tenag ia mengakui identitasnya dan tujuannya datang ke Cina. Pada sidang kedua, mandarin mengulangi pertenyaan-pertanyaan yang sama, dengan membiarkan dia berlutut di atas tumpukan rantai selama empat jam.

Dua minggu berikutnya, Romo Perboyre dikeluarkan dari penjara untuk menghadap pengadilan yang lain, sehubungan dengan urusan keuangan. Diantara hal-hal lain, dia ditanyai tempat tinggal imam-imam Eropa yang lain, dan ia menjawab bahwa ia tidak tahu. Mandarin kemudian memerintahkan dia berlutut di atas rantai-rantai besi. Kemudian dia berpaling pada orang Kristen yang lain, dengan menghina agama dan pemimpin mereka; tetapi rasa hormat dan rasa kasihan mereka bertambah ketika mereka melihat para serdadu memukuli Yohanes Gabriel, menarik kucir rambutnya dan memukulnya dengan sabuk kulit yang keras.

Setelah tiga puluh hari di penjara ini, kelompok yang terdiri dari tiga belas tawanan itu dikirim kembali ke Ouchangfou, ibukota propinsi. Disitulah Romo Clet telah menjadi martir sekitar dua puluh tahun sebelumnya. Ketika saling berjumpa, para tawanan itu saling menguatkan dan saling menghibur agar tetap setia; bahkan beberapa yang tidak berhasil menjaga kesetiaan karena siksaan-siksaan, datang dan menyesal serta minta diterima lagi di antara umat katolik. Di tempat ini para tawanan dirantai dalam penjara yang sangat kotor, dicampur dengan para penjahat umum, sambil menunggu pemeriksaan selanjutnya. Beberapa keringanan diperoleh untuk mereka. Oleh para imam Vinsensian, diantara orang-orang Katolik setempat ditentukan suatu giliran agar merek secara teratur mengunjungi para tahanan, memberi mereka sakramen-sakramen dan membawa makanan, pesan-pesan serta surat-surat.

Tetapi situasi itu tidak bertahan lama karena para tawanan dihadapkan pada mandarin. Romo Perboyre menjalani lebih dari empat puluh pemeriksaan saat itu. Dengan mengenakan pakaian merah yang biasa dikenakan kepada para penjahat, dia harus berlutut di hadapan para hakim, dengan memikul tinggi-tinggi sebuah potongan kayu yang berat hanya dengan satu tangan dan jika tangan itu turun, dia dipukuli oleh para petugas. Pertama-tama dia ditanyai tentang tujuannya datang ke Cina dan apakah dia menyesali hal itu; dia dituduh datang ke Cina untuk mencari keuntungan dengan menipu orang-orang dan mengajarkan ajaran sesat. Beberapa orang Cina yang telah menyangkal iman mereka, diajukan untuk menghina dia dan meludahi dia serta menjambak rambut dan janggutnya. Berlawanan dengan tingkah-laku mereka, kekuatan dan kesetiaan beberapa orang, termasuk Anna Kao dan Stanislaus Teng, merupakan hiburan bagi imam yang kudus itu.

 

PENGADILAN TERTINGGI

Pemeriksaan ditanguhkan selama satu bulan. Romo Perboyre dapat bernafas sebentar. Dia mendapat juga kesempatan untuk mempersiapkan jiwanya bagi tahap terakhir perjuangannya. Sudah jelas bahwa, sebagai orang Eropa yang memasuki daratan Cina tanpa merencanakan pulang, dia telah melakukan kesalahan yang patut dihukum mati. Tetapi sekarang mereka mencoba menghukum dia karena mengajar agama asing serta mengajak dia untuk menyangkal agama itu dan membujuknya agar mempersalahkan teman-temannya; setelah itu, mereka akan menuduh dia karena sesuatu perbuatan kriminal serta perbuatan yang tidak senonoh, dengan tujuan untuk mendiskreditkan agamanya dan dirinya sendiri.

Pertama-tama dia ditanyai tentang rute yang ia tempuh ketika memasuki Cina; tetapi ketika dia menyadari bahwa jawaban itu dapat mencelakakan saudara-saudaranya, ia tidak menjawab. “Jika saya berbicara, penganiayaan akan meluas di seluruh negeri”, katanya dalam suratnya yang terakhir.


Kebisuannya itu mendatangkan baginya lima belas cambukan cemeti. Kemudian dia ditanyai apakah dia tidak memberikan jampi-jampi magis kepada para pengikutnya untuk menjaga mereka dari bahaya penyangkalan agama. Dia membantah hal ini dan karenanya dibayar dengan lebih dari sepuluh cambukan. “Apakah ini bukanlah obat?” tanya mandarin, sambil menunjukkan sebuah botol kecil yang berisi minyak suci. “Itu bukan obat”, jawab Yohanes Gabriel, dan dia dilempar ke tanah untuk menerima dua puluh pukulan bambu.

Sebuah salib kini dilemparkan di lantai, dan dia diperintahkan untuk menginjak-injaknya. Dia bergeming dan mereka mencoba untuk memaksa dia melangkah di atas salib. Dengan kekuatan yang tak terduga, dia mampu melepaskan diri dari pegangan mereka dan berlutut mencium wajah Yesus dengan bibir bengkak dan berdarah. Dalam kemarahannya, mereka menangkap kakinya dan memaksa dia untuk menginjakkan kaki pada salib, tapi usaha itu pun sia-sia.

Dengan menunjukkan lagi minyak suci, mandarin itu berkata: “Kamu adalah penjahat dan pendosa. Kalau dipanggil mendampingi orang yang mendekati ajalnya, kamu memegang tubuh mereka dan mencungkil mata mereka”. Ketika misionaris itu menyangkalnya, mereka berkata: “Kamu dusta, kamu akan mendapat lebih banyak siksaan, kecuali jika kamu mau mengaku”. Setelah untuk kedua kalinya menyangkal, Pastor Perboyre ditelanjangi dan didera dengan bambu. Darah bercucuran dari punggung dan kakinya. Mereka memaksa dia berdiri dengan menarik rambutnya dan membenturkan kepalanya pada dinding kayu. “Mau mengaku sekarang?” tanya hakim. “Tidak”, jawabnya dan dia dicambuki lagi.

Kelembutan, kesabaran, dan ketabahannya mengundang kekaguman semua orang, baik Kristen maupun bukan, karena tangan Tuhan jelas-jelas menolong dia melawan semua kekejaman yang biadab itu.

Kini mandarin menganggap dia sebagai tukang sihir, dan memakai upacara lazim untuk mematahkan kekuatan sihir. Seekor anjing dibunuh dan darahnya yang masih hangat itu dioleskan di kepala tawanan dan diberikan kepadanya untuk diminum. Lalu dia pada panggulnya dicap dengan besi panas dan dia terkulai setengah mati di lantai. Penyiksaan telah berlangsung hampir satu hari penuh, ketika ia diseret kembali ke dalam selnya yang menjijikkan.

 

MARTIR KEMURNIAN

Selama dua hari dia diperbolehkan istirahat supaya pulih kembali. Kemudian Perboyre dihadapkan lagi ke mandarin dan ditanya apakah dia sekarang mengakui kejahatan-kejahatan yang dituduhkan kepadanya, tetapi dia menjawab: “Saya tidak perlu menambahkan apa-apa lagi”. Lalu dia dipukuli lagi dengan tongkat bambu. Kemudian hakim menuduhkan lagi kepadanya kejahatan-kejahatan melawan kemurnian dan kesusilaan. Jelaslah mandarin bermaksud menghina imamat maupun keperawanan, serta merendahkan agama Kristen. Fitnahan-fitnahan lama tetap digunakan oleh musuh-musuh imamat.

Semua mengetahui bahwa di Tchayuenkuw, tempat Romo Perboyre berkarya, ada sekelompok wanita muda yang hidup sebagai biarawati. Sesuai dengan kebiasaan di Cina, wanita itu mengurus cucian rumah tangga. Tak satupun dari mereka diijinkan masuk ke rumah para misionaris. Hanya laki-laki yang diperbolehkan masuk pastoran untuk melakukan pelayanan-pelayanan yang diperlukan. Pada sidang pengadilan sebelumnya, Yohanes Gabriel ditanya apakah wanita-wanita inilah yang menjadi pelayan di tempat kediaman para misionaris. Dalam pertanyaan itu tersirat suatu sindiran yang busuk. Maka ia menjawab bahwa mereka sungguh-sungguh menjalankan keperawanan yang sempurna.


Selain itu, dalam sidang pengadilan itu juga, orang cina sendiri melalukan percobaan, yang menurut pandangan mereka membuktikan apakah seorang setia pada kemurnian atau tidak. Sejenis jamu diletakkan pada pergelangan tangannya, dan jamu itu akan berubah warna, jika orangnya tidak setia pada kemurnian; dan ternyata tidak terjadi perubahan warna. Setelah itu sejenis obat bius khusus ditempelkan pada kepalanya dengan tujuan yang sama; malah Yohanes Gabriel mengalami juga pemeriksaan medis yang khusus. Dan semuanya menunjukkan bahwa dia tidak bersalah.

Anna Kao, salah seorang anggota komunitas biarawati itu, yang tertangkap bersamaan dengan Romo Perboyre dan yang sudah menghadapi dengan berani pertanyaan-pertanyaan yang bertubi-tubi, sekarang pun diinterogasi dan dengan cekatan dia membela iman dan kehormatannya. Dia pun terpaksa mengalami beberapa percobaan sebagai ujian terhadap keperawanannya. Sebuah pita direndam dalam obat tertentu, diletakkan pada leher dan telinganya, dan jika pita berubah warna, itu berarti dia telah kehilangan keperawanannya. Ternyata pita itu tidak berubah warna dan dengan demikian ia mendapat penghargaan yang sangat besar dihadapan seluruh masyarakat. Ditanya oleh salah seorang dari mandarin itu berapa lama ia telah menjadi perawan, dia menjawab dengan sederhana: “Saya telah dilahirkan demikian”.

Sebetulnya hakim sudah mengerti sebelumnya bahwa tuduhan-tuduhan itu tidak benar, seperti akhirnya menjadi nyata dalam sidang pengadilan; tetapi ia berharap bahwa siksaan dan hukuman akan memaksa Yohanes Gabriel mengaku. Lalu dia kembali menyerang dengan suatu pertanyaan yang bermaksud jahat: “Apakah gadis Anna Kao itu pelayan wanitamu?” Pertanyaan ini sudah terjawab sebelumnya oleh Yohanes Gabriel, maka sekarang dia pilih diam. Langsung ia ditampar hingga jatuh tersungkur di tanah dan dipukuli tanpa belas kasihan dengan tongkat bambu yang berat. Lalu ia diikat pada sebuah tiang dan didera, tetapi ia sama sekali tidak menjawab; dipukul lagi namun tetap tidak ada jawaban. Seutas tali diikatkan pada rambutnya dan dengan bantuan alat kerek, dia ditarik ke atap dan dibiarkan jatuh ke tanah beberapa kali. Namun demikian tak satu kata pun keluar dari mulutnya.

Akhirnya, dia dibawa kembali ke penjara dalam sebuah keranjang dalam keadaan penuh luka dan lecet, sementara darah mengalir, sungguh bagaikan mayat. Dia sendiri percaya bahwa saat kematiannya telah datang dan mengirim pesan kepada seorang imam, karena dia mau mengakukan dosanya dan menerima absolusi. Berkat rahmat Allah dia tetap bertahan teguh sebagai saksi hidup Kristiani, menjaga dengan baik namanya dan keutamaannya sendiri.

Pada suatu sidang lain dia diperintahkan pula untuk mengenakan pakaian misa yang telah dirampas pada waktu penangkapannya. Dia ragu-ragu untuk melaksanakannya, tetapi ketika ingat Tuhannya yang mengenakan pakaian ungu saat penderitaannya, dia menaati perintah tersebut untuk semakin menyerupai Tuhannya. Semua hadirin merasa kagum terhadap dia. Mereka menyadari bahwa dia sama sekali bukan penjahat.

Maka ketika Stanislaus Teng, yang sudah letih karena siksaan dan segala macam kesengsaraan, merasa ajalnya sudah dekat serta datang ke dalam ruang pengadilan untuk berlutut dengan tetap mengenakan rantai-rantai dan memohon absolusi sakramental yang diberikan Romo Perboyre kepadanya dengan suara keras, para penjahat itu sangat kagum melihat orang-orang itu yang demikian kuat dan teguh dalam iman mereka.

 

PENGADILAN YANG TERAKHIR


Yohanes Gabriel selanjutnya harus menghadap wakil raja sendiri, yang sungguh-sungguh membenci agama katolik dan imam-imamnya. Pertama-tama dia melontarkan tuduhan yang lama maupun yang baru, bahwa orang-orang kristen mencungkili mata orang-orang Cina untuk membuat warna-warna yang biasa dipakai dalam lukisan-lukisan mereka. Penyangkalan terhadap tuduhan itu mengakibatkan martir kita digantung dan dipukuli. Wakil raja itu mencoba untuk membujuknya agar mau menginjak salib dan berlutut di hadapan berhala. Ketika dengan berani menolak hal itu, Yohanes Gabriel dipaksa untuk berlutut di atas rantai dan di atas pecahan-pecahan tembikar, sementara dua polisi berdiri di atas sebuah papan yang diletakkan melintasi kakinya, untuk menaruh beban lebih berat lagi pada lututnya.

Jenis penyiksaan itu berlangsung selama dua bulan, dari Maret sampai April 1840. Yohanes Gabriel berhasil mengatasi semua percobaan ini. Ketabahannya tidak dilemahkan sedikitpun; tak pernah dia mengakui kejahatan dan kekejian yang dituduhkan kepadanya, dengan tetap mempertahankan sikap yang lembut dan sabar. Akhirnya wakil raja itu menjatuhkan hukuman mati dengan cara dicekik, karena dia orang Eropa yang masuk kekaisaran Cina secara tidak sah, apalagi dia bernilai mewartakan agama yang sesat. Pengikut dan teman-temannya, termasuk Anna Kao, akan dijual kepada Kaum Muslim sebagai budak.

 

VONIS DAN KEMARTIRAN

Keputusan ini harus mendapat pengesahan dari kaisar dan untuk itu diperlukan waktu enam minggu. Sementara itu peraturan penjara agak diperlunak; para konfrater serta orang-orang Katolik dapat membawakan Romo Perboyre makanan, pakaian, obat sehingga pulihlah kekuatannya. Demikian juga dia cukup sering boleh menerima sakramen tobat. Karena segala makanan yang dikirim harus dicicipi dulu oleh penjaganya, maka dipandang tidak bijaksana mengirim komuni kudus kepadanya. Melalui orang-orang yang sering mengunjunginya, dia bisa berkontak dengan komunitas kristen. Maka dia menyemangati mereka dengan nasihat dan dengan teladan, agar tetap tegar dalam mempertahankan iman.

Hari demi hari dia mempersiapkan diri untuk kemenangannya yang terakhir dan untuk menerima mahkota kemartiran. Dia menghabiskan jam demi jam dalam keheningan doa dan meditasi, berkomunikasi dengan Tuhan, merenungkan kembali sengsara Tuhan sambil menyerahkan diri kepada Ibu Maria. Dia menatap ke depan dengan harapan dapat berjumpa dengan mereka di surga, bersama dengan orang-orang yang menjadi teladan dan pelindungnya sepanjang hidupnya, Santo Vinsensius dan Beato François Regis Clet.

Akhirnya, Kaisar mengesahkan vonis pengadilan dan memerintahkan agar dia dicekik. Tidak ada alasan untuk menunda eksekusi. Karena itu, bersama dengan empat penjahat yang akan dipenggal kepalanya, Yohanes Gabriel dihantar keluar, dikelilingi oleh prajurit, polisi, mandarin dan khalayak ramai yang sekedar ingin melihat. Suatu maklumat dipanggulnya. Maklumat itu bertuliskan Apenjahat, pengikut agama yang sesat@. Dengan langkah yang mantap dia berjalan, sementara bibirnya bergerak-gerak untuk berdoa.

Setelah tiba di tempat eksekusi, dimana sebuah tiang pergantungan dalam bentuk salib sudah dipasang, dia berlutut untuk menyerahkan hidupnya kepada Allah dengan suka cita dan untuk menyatakan cinta dan kesetiaannya. Empat penjahat dipenggal di depan matanya, dan saat-saat terakhir hidupnya telah tiba.

Jubah penjara berwarna merah serta pakaiannya dilepas; dia dibiarkan hanya dengan celana pendek. Tangannya diikat di belakang punggung, lengannya diikat pada batang salib yang pendek dan kakinya diikat ke belakang pada pahanya, sehingga ia digantung dalam posisi berlutut. Pelaksanan eksekusi yang berdiri di belakang salib, memasang simpul tali pada lehernya, menarik kepalanya ke belakang supaya berdempet pada tiang,memutarkan tali dan mengeraskan ikatan pada tenggorokannya tiga kali dengan bantuan tongkat bambu. tanpa bergerak atau kejang-kejang, tubuhnya terkulai dan jiwa Yohanes Gabriel Perboyre berada di antara orang-orang kudus di surga.


Peristiwa itu terjadi kira-kira pada pertengahan hari Jumat tanggal 11 September 1840. Umurnya mencapai 38 tahun; selama tiga puluh depalan bulan dia bekerja sebagai misionaris, sampai akhirnya ditangkap satu tahun sebelum wafatnya.

Dengan kematiannya yang heroik, harapan hidupnya menjadi kenyataan. Ketika ibunya yang saleh, tinggal di Montgesty, diberi kabar tentang penderitaan dan kematian anaknya, dia berkata: “Saya tidak terkejut. Mengapa saya harus ragu-ragu dalam mempersembahkan pengurbanan anakku kepada Tuhan? Bukankan Bunda kita juga telah merelakan Anaknya bagi keselamatan kita? Sesungguhnya saya tidak mencintai anak saya jika saya sedih. Karena saya mengetahui bahwa sekarang dia telah mencapai kepenuhan semua harapannya”.

Tentara membawa pulang semua pakaian Yohanes Gabriel Perboyre dan tubuhnya dibiarkan tergantung pada tiang pergantungan sampai hari berikutnya. Para imam serta umat beriman bersepakat dengan para petugas pemerintah guna membeli kembali tubuh martir mereka. Dalam perjalanan menuju pemakaman para petugas pemerintah tadi berhenti sesaat di salah satu tanah milik misi lalu meneruskan perjalanan dengan peti yang lain yang penuh dengan tanah.

Pagi berikutnya tubuh Yohanes Gabriel Perboyre dimakamkan di pemakaman Kristen di lereng Gunung Merah di samping makam tiga imam Yesuit. Dua puluh tahun kemudian, tulang-tulangnya dipindah ke rumah induk CM di Paris. Di situ dipelihara dan dihormati dengan pantas.

 

TANDA-TANDA DARI SURGA

Sengsara Yohanes Gabriel sangat menyerupai sengsara Yesus Kristus dalam banyak detail. Maka tidak mengherankan kalau Allah Yang Mahakuasa menunjukkan perkenananNya melalui tanda-tanda yang ajaib. Pada hari kematiannya, salib besar yang bercahaya nampak di langit dan dilihat baik oleh orang-orang Kristen maupun oleh orang-orang lain di beberapa bagian negeri itu. Banyak di antara mereka bertobat karenanya. Keajaiban serupa terjadi beberapa bulan kemudian di atas makamnya.

Yohanes Gabriel menampakkan diri kepada seorang yang kaya yang bukan kristen, Liu-Kiu-Lin, yang telah menunjukkan belaskasihannya seperti orang dari Sirena yang diceritakan dalam injil; Ketika Yohanes Gabriel mengalami percobaan yang berat dan tidak dapat berjalan lancar, maka orang kaya itu menyediakan sebuah kursi untuk mengangkut misionaris kita. Dalam penampakan itu Yohanes Gabriel sedang berdiri di puncak tangga merah, dan mengundang Liu-Kiu-Lin untuk menaiki tangga putih yang terletak di sampingnya. Setelah pengalaman itu Liu-Kiu-Lin minta dibaptis, dan meninggal sebagai orang Kristen tiga hari kemudian.

Rahmat dan kebaikan-kebaikan yang lain juga dicurahkan di sana-sini di daerah misi, terutama di antara para Suster Puteri Kasih di Perancis. Sebagian dari kejadian itu telah diselidiki selama proses beatifikasi. Karena berdasarkan kesuciannya yang demikian nyata dan mukjizat-mukjizat yang dilakukan oleh Allah yang Mahakuasa dengan perantaraannya, segera langkah-langkah diusahakan untuk memulai proses beatifikasinya.

Akhirnya Yohanes Gabriel dinyatakan beato pada tanggal 30 Mei 1889, 49 tahun setelah kematiannya, dan upacaranya diadakan pada tanggal 10 November di lapangan St. Petrus di Roma, oleh Paus Leo XIII. Di antara sekian banyak orang yang hadir patut dicatat secara khusus kehadiran dua orang yang sudah tua, yakni seorang imam CM bernama Romo Jacques dan seorang Suster Puteri Kasih bernama Sr. Marie, kedua-duanya saudara kandung Beato Perboyre. Saudarinya yang lain yang masih hidup ketika itu, yaitu Antoinette atau Sr. Gabrielle, salah seorang dari suster-suster PK pertama yang pergi ke Cina, waktu itu sedang berada di Hangchow.


Tanggal 7 November ditetapkan sebagai hari pesta Beato Yohanes Gabriel, dan muncullah banyak devosi kepadanya di seluruh dunia; keutamaan-keutamaannya yang dihayati secara pahlawan dan keserupaan dengan Putera Allah dalam penderitaan menjadi buah pembicaraan di mana-mana. Setelah Konsili Vatikan II pestanya dipindahkan pada tanggal 11 September, hari kematiannya.

Selama seratus tahun setelah kematiannya, iman kristiani terus berkembang di daerah yang pernah dilayani oleh Yohanes Gabriel, meskipun penganiayaan sering mengancam orang-orang Kristen. Bahkan pada tahun 1926 Paus Pius XI menetapkan bahwa Gereja Cina bukan lagi daerah misi, dengan mengangkat Hirarki Gereja lokal secara resmi. Kongregasi Misi memberi sumbangan tidak kecil untuk perkembangan gereja Cina. Pada tahun 1947 di Cina terdapat 368 anggota CM, yaitu 15 uskup (di antaranya 4 putera daerah), 340 imam (di antaranya 143 putera derah) dan 13 Bruder.

Rupanya penderitaan Gereja Cina belum berakhir. Pada tahun 1949-1951 tentara-tentara komunis berhasil menguasai seluruh daratan Cina. Setelah itu semua misionaris asing dipulangkan dan kegiatan gereja dibekukan. Para romo dan para uskup CM putera daerah tetap tinggal di Cina untuk membina Umat Katolik. Perjuangan dan penderitaan mereka belum terungkap, sebab masih terselubung di belakang “tirai bambu”. Kapankah semua tirai dapat dibuka kembali? Gereja tetap yakin bahwa sanguinis martyrum semen christianorum (darah para martir itu benih subur bagi perkembangan gereja).

Misi Sebelum 1923

Misi Sebelum 1923

 

Rm. Armada Riyanto CM

[Nukilan dari makalah “Sejarah Hati Misi. 90 Tahun CM Indonesia dan 50 Tahun CM Roma di Keuskupan Surabaya”, disampaikan dalam Hari Studi tanggal 23 Januari 2015 di Kepanjen, Surabaya]

 

1810 Kedatangan pertama Romo diosesan Belanda di Surabaya.

1821 Permulaan pembangunan Gereja Katolik Pertama di Surabaya di sebuah tempat antara jalan yang akan disebut Romsche Katholieke Straat (sekarang Jalan Merak & Cenderawasih) dan Komedie Plein (lapangan Komedie). Surabaya merupakan sebuah “stasi” dari Prefekturat Batavia. Pastornya Romo H. Waanders Pr.

1822 Peresmian Gereja Katolik Pertama Surabaya yang didedikasikan kepada Bunda Maria.

1835 Seorang misionaris CM, Yohanes Gabriel Perboyre, mampir satu bulan di Surabaya dalam perjalanannya ke Cina. Dari surat Yohanes Gabriel, kita tahu Surabaya adalah wilayah kota yang indah.

1843 Mgr. de Groof, Vikaris pertama Batavia (1845) memecat pastor yang bertugas di Surabaya, dan lantas terdapat konflik besar antara Vikaris Batavia dengan Gubernur Jenderal Rachussen, yang ikut campur tangan dalam urusan Gereja Katolik. Konflik antara Mgr de Groof dengan Gubernur Jenderal Rachussen berakibat pada pengusiran baik Mgr. de Groof maupun pastor stasi Surabaya. Akibatnya Gereja di Surabaya sempat ditutup oleh pemerintah kolonial selama dua tahun-an. Konflik ini kelak akan memroduksi lahirnya Surat Radicaal, sebuah dokumen penting untuk mengerti mengenai misi Katolik di Hindia Belanda.

1859 Romo-Romo Yesuit tiba dan akan berkarya di banyak wilayah di Hindia Belanda (Indonesia), antara lain Surabaya.

1900 Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria Kepanjen diresmikan untuk menggantikan Gereja Pertama yang telah rusak, karena gempa dan terbakar.

1923 Misi Romo-Romo Yesuit digantikan dan dikembangkan oleh para Romo CM.

 

MISI SEBELUM 1923

 

Bagaimana sebaiknya memahami misi Gereja Katolik sebelum 1923 di wilayah yang kelak akan disebut Keuskupan Surabaya dan Indonesia pada umumnya? Tema pembicaraan ini saya pandang penting untuk mengantar orang kepada sensibilitas makna sejarah misi di wilayah ini.

Barangkali sebaiknya diketahui terlebih dulu beberapa realitas keadaan Gereja Katolik yang ada dalam catatan historis. Ketika Propaganda Fide menyerahkan kepada CM wilayah Surabaya, ketika itu sudah dilayani beberapa romo Yesuit. Juga dituliskan pada waktu itu (tahun 1923) terdapat 40 umat Katolik Jawa. Catatan ini ada dalam surat resmi Propaganda Fide (surat Kardinal van Rossum CSSR), diterbitkan pada tahun yang sama di AAS (acta apostolicae sedis) Vatikan dan Annales CM-PK Paris, tentu saja juga di majalah misi Provinsi Belanda, St. Vincentius a Paulo Missietijdschrift der Lazaristen di Panningen.

Jika tahun 1835 Santo Yohanes Gabriel Perboyre CM yang hendak misi ke Cina mampir di Surabaya dan berkata dalam surat-suratnya bahwa di sini sudah terdapat Gereja Katolik; dan tahun 1822 Gereja itu telah berdiri, berarti sudah 100 tahun lebih hitungannya iman Katolik dibawa ke wilayah ini, mengapa umat Katolik Jawa hanya ada 40 jiwa saja? Apalagi, kedatangan pertama imam Katolik pasti sebelum tahun 1822 (konon 1810?). Dan, jika kita membaca tulisan sejarah di wilayah Surabaya dari majalah Katholieke Gids, majalah Prefektur Surabaya (yang mulai terbit tahun 1928), dikatakan pada tahun 1900 terdapat 10 umat Katolik Jawa.[1] Mengapa begitu sedikit pertambahan jumlah umat?

Romo Piet Boonekamp CM, penulis artikel sejarah Keuskupan Surabaya dalam buku monumental, Sejarah Gereja Katolik Indonesia, buku yang diedit oleh Dr. Muskens (terbit tahun 1974), berkata dengan kalimat bernada halus, waktu itu para misionaris Yesuit kekurangan tenaga (mereka hanya berdua di Surabaya). Mereka tidak sempat mewartakan Injil kepada umat Jawa. Perhatian mereka hanya umat Eropa dan waktu itu memiliki wilayah yang sangat luas, konon Makasar atau Lombok pun terhitung masuk dalam “stasi” Surabaya.

Membaca beberapa kalimat Romo Piet terasa belum melegakan kehausan akal budi saya mengenai perkara historis ini. Benarkah Romo Yesuit kekurangan tenaga, dan hanya itu sebabnya misi Katolik berbuah sedikit dari sisi pertambahan jumlah umat?

 

***

 

SURAT “RADICAAL” ITU

 

Sudah agak lama saya tertarik mengenai yang saya temukan secara tidak sengaja, dan hal ini belum pernah disinggung dalam tulisan sejarah Gereja Katolik Indonesia (sejauh saya ketahui). Ketika membolak-balik dokumen penugasan misi oleh Provinsial Belanda, terdapat secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang tak mudah dibaca dari Romo Harie Romans CM (provinsial waktu itu): (nomor 2) Is het aan te raden dat allen het Radicaal hebben… en waarom?  (Apakah sebaiknya semua [misionaris] memiliki [surat] Radicaal … dan mengapa?)

Saya bertanya-tanya mengenai surat yang disebut sebagai surat Radicaal, apakah gerangan surat itu? Almarhum Romo Slutter CM, yang datang ke Indonesia tahun 1949, pernah berkata kepada saya bahwa dia masih harus mengurus Radicaal itu di Den Haag. Dan, sesudah tahun itu, surat itu tidak diperlukan lagi oleh para misionaris yang datang ke Indonesia. Tentu ini mengindikasikan hal yang sudah jelas, yaitu sesudah tahun 1949 Belanda telah secara resmi “menyerahkan” kekuasaan kepada pemerintahan Indonesia.

Belakangan Romo Bellemakers CM, penggiat sejarah misionaris Belanda, yang semula juga kurang perhatian dengan surat itu, mulai tertarik dan membantu saya untuk mengenalinya. Tetapi setelah melihat internet dia hanya berkata, surat itu berasal dari konflik Uskup Mgr. Grooff (Uskup Jakarta) dengan Gubernur Jenderal J.J. Rochussen. Surat itu semacam surat jalan atau surat ijin kerja di wilayah kolonial.

Jawaban ini belum melegakan saya. Saya tertarik mengungkap lebih dalam keterkaitan surat Radicaal dengan karya misi para misionaris kita. Sampai di sini saya untuk sementara hanya bisa yakin bahwa surat ini menyimpan misteri sejarah yang sangat penting.

Atas kebaikan Romo Bellemakers CM, provinsial CM Belanda, surat Radicaal itu diberikan kepada CM Provinsi Indonesia sebagai bukti fisik historis dari salah satu pergumulan misionaris kita dalam mewartakan Injil ke Hindia Timur (Indonesia). Yang diberikan itu ialah surat Radicaal milik Romo C. Klamer CM, yang pada waktu mengawali misi ke Indonesia berangkat dari Yungpingfu tahun 1923, Cina. Surat itu tersimpan baik dan masih sangat bagus meski usianya telah 90 tahun.

Kembali kepada pertanyaan semula, apa hubungan surat Radicaal dengan misi Katolik di Indonesia?

Almarhum Romo Gerard van Winsen CM menulis artikel berbahasa Perancis “Motifs de l’Assistance Missionaire Hollandaise á l’Indonésie (1800-1920)” yang diterbitkan oleh jurnal Neue Zeitschrift für Missions-wissenschaft 1974 (pp. 52-61). Terima-kasih Romo van Winsen CM, artikel ini membantu saya menyibak “misteri” surat Radicaal itu dan apa hubungannya dengan misi Katolik di Keuskupan Surabaya dan Indonesia pada umumnya. Konteks surat Radicaal dan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh misi Katolik pada waktu itu menjadi lebih gamblang kaitannya dalam artikel Rm van Winsen tersebut. Artikel itu saya temukan di archives Maison Mere, Paris pertengahan Juni 2013. 

Romo van Winsen CM mengawali artikel dengan apresiasi kepada karya monumental yang diedit oleh Dr. Muskens, Sejarah Gereja Katolik Indonesia. Menurut van Winsen, dengan mengamini tesis Romo Muskens (beberapa tahun kemudian Uskup), Gereja Katolik Indonesia memiliki ciri khas yang unik. Keunikannya terletak pada realitas bahwa iman Katolik terintegrasi dengan kehidupan kultural Indonesia secara mendalam dan terintegrasi dengan pergulatan politik bangsa Indonesia.

Kata “integrasi” menarik saya mendalami artikel Romo van Winsen CM lebih lanjut. Tesisnya: Apakah “integrasi” iman Katolik dan politik itu tidak memiliki latar belakang yang khas dari pergulatan para misionaris Belanda dengan politik pemerintahan kolonial Belanda? Jawabannya sudah barang tentu ada. Artinya, apa yang terjadi saat ini dalam Gereja Indonesia (Gereja Katolik, bukan Gereja Kristen pada umumnya) memiliki introduksi dari pergulatan para misionaris Katolik Belanda berkaitan dengan pemerintahan kolonial waktu itu. Ini tesis Rm van Winsen CM, seorang misiolog, yang saya amini dalam banyak segi.

 

Gereja Katolik memperjuangkan kebebasannya

Tanggal 20 Maret 1602 merupakan tanggal pendirian VOC (Verenigde Oostindische Compagnie) dan kelak akan bubar tahun 1800. Disebut “Compagnie”, karena merupakan sebuah “perusahaan”, Perusahaan Dagang “Hindia Timur” (nama untuk Indonesia waktu itu). VOC pada kenyataannya adalah persekutuan para pedagang Belanda, yang membeli rempah-rempah dan menjualnya kembali di Belanda ke negara-negara Eropa. Keuntungan dari VOC luar biasa besar.

Cara memahami VOC hendaknya tidak seperti dalam kisah-kisah di kesenian tradisional Ludruk kita. VOC didirikan, seperti para pedagang Inggris mendirikan yang sama di Calcuta, “British-East India Company” (tahun 1600). Perusahaan yang sama juga didirikan oleh Perancis (1604). Semua perusahaan dagang ini menjadi trend waktu itu setelah mereka melihat kesuksesan Portugis yang sudah lebih dulu memonopoli perdagangan kolonial, termasuk dari Indonesia abad ke 16. Seperti perusahaan dagang Eropa lainnya, VOC mendapatkan hak dagang monopoli dari Ratu Belanda (Belanda adalah sebuah kerajaan seperti seluruh Eropa lainnya). Maka, VOC menjadi semacam representasi pemerintahan Kerajaan Belanda yang sah.

Ketika VOC berdiri, mereka tidak hanya suatu perusahaan dengan banyak kapal dan banyak tenaga kerja, tetapi juga pasukan paramiliter untuk mengamankan lalu lintas dan untuk tugas-tugas lain. VOC menggaji tidak hanya para pegawai melainkan juga para pasukan militernya dan segala biaya perang. Lama kelamaan, di Indonesia VOC bukan hanya perusahaan dagang, melainkan telah menjadi pemerintahan dagang kolonial. Dan, di sana sini selain berdagang, juga berperang dengan masyarakat setempat. Kita menyebutnya dalam sejarah, VOC adalah penjajah. Indonesia pada waktu itu juga tidak satu (belum bersatu), jadi di sana sini ada perdagangan dan kolonisasi. Dari sisi agama, VOC adalah Protestan.

Sejak pendirian VOC semua pelaksanaan peribadatan Gereja Katolik yang sudah ada (di Hindia Timur) dibekukan dan dilarang. Dimana VOC datang di wilayah itu, di sana apa saja yang berkaitan dengan Gereja Katolik dihancurkan. Contoh paling jelas adalah apa yang terjadi di Maluku. Di Maluku VOC tiba, seluruh karya misi Katolik yang dikerjakan oleh Portugis dan Spanyol dihancurkan, baik itu berkaitan dengan gedung Gereja maupun umatnya. Hal ini mengingatkan kita akan karya misioner St. Fransiskus Xaverius dan kawan-kawan yang telah “dimusnahkan” oleh VOC. Perusahaan ini bekerjasama dengan beberapa kerajaan kecil setempat, umumnya kesultanan (Muslim), untuk mengusir atau menghancurkan pusat-pusat misi Portugis dan Spanyol, kecuali di Flores yang kurang disentuh oleh Belanda.

VOC bukanlah perusahaan religius. VOC perusahaan pragmatik dari para pedagang yang mencari untung sebesar-besarnya dengan mengusung hasil rempah-rempah Indonesia ke Eropa. Tetapi, karena di tanah airnya, Belanda, perseteruan agama (sebagaimana di Eropa pada umumnya) waktu itu santer, tidak bisa disangkal pemerintahan VOC juga membenci Katolik di wilayah koloni.

Maka, kebencian VOC terhadap misi Katolik mengalir dari apa yang terjadi di tanah air mereka sendiri, Nederland. Di Nederland Gereja Katolik dianiaya, karena ratu dan pemerintahan adalah Protestan. Kita dibawa ke masa gerakan Protestantisme di Eropa Utara yang berakibat pada kebencian dan penganiayaan terhadap Gereja Katolik (sementara di Selatan seperti Perancis, Katolik melakukan yang sama terhadap komunitas Protestan). Konteks waktu itu adalah perang agama di Eropa. Hal yang sama mengalir di wilayah kolonial, Indonesia.

Pada tanggal 16 Mei 1795, di Belanda berdirilah apa yang disebut “Republik Tujuh Provinsi”. Pada waktu itu dibentuklah Dewan perdagangan untuk Asia. Maksud pembentukan Dewan dagang itu secara efektif menghasilkan dekrit yang membubarkan VOC pada tahun 1800. Kini representasi pemerintahan Belanda di Hindia Timur tidak lagi direpresentasi oleh VOC. Pembubaran VOC konon juga atas korupsi dan kebobrokan moral yang terjadi di dalamnya.

Tahun 1806-1810 Belanda kalah perang dan di bawah kekuasaan Louis-Napoleon, dan menjadi bagian dari kerajaan Perancis; pemerintahan kolonial (di Hindia Timur) yang sah disebutkan dalam Konstitusi tahun 1806. Tetapi setelah Napoleon jatuh, pemerintahan Kerajaan Belanda yang telah dipulihkan membentuk apa yang nantinya disebut “Gubernur Jenderal” sebagai representasi sah dari pemerintahan Belanda. Sebutan “gubernur” untuk menunjukkan seolah-olah wilayah Hindia Timur (Indonesia) merupakan sebuah provinsi jauh dari negara kerajaan Belanda. Pada poin ini, meski halnya sudah mulai sejak VOC, Hindia Timur (Indonesia) seolah telah menjadi “milik” pemerintahan kerajaan Belanda. Belanda tidak hanya berdagang, melainkan menguasai Hindia Timur.

Sementara itu mengenai isu religius di Belanda terjadi perubahan. Sejak tanggal 5 Agustus 1796 diterbitkan dekrit yang menghapus privilese (hak-hak khusus) dari Gereja Protestan. Kebebasan beragama di Belanda mulai dipromosikan. Hal ini diperteguh ketika Belanda ada di bawah Perancis. Meski kekuasaan Perancis sesudah revolusi 1789 sekular, orang-orang Perancis pada kenyataannya Katolik.

Di Hindia Timur (Indonesia) atau wilayah kolonial kebebasan beragama dipromulgasikan sebagai kelanjutan dari apa yang terjadi di Belanda. Dekrit yang menjamin kebebasan beragama ini berasal dari dekrit kerajaan Belanda tanggal 9 Februari 1807, artikel 22 dan 23. Meski sentimen religius di antara umat Protestan terhadap Katolik tidak mudah hilang, paling tidak secara konstitusional, Gereja Katolik di Belanda bisa lebih “bernafas” menghirup angin kebebasan.

Dari sejarah mudah diingat, Gubernur Jenderal pertama, dan itu sangat terkenal, adalah Herman Willem Daendels yang diangkat tahun 1807. Konon perjalanan laut Daendels sangat sulit dan berbahaya, tetapi akhirnya sampai juga berlabuh di Batavia. Sering dikatakan dalam sejarah Gereja Indonesia, Daendels adalah gubernur jenderal pertama yang membolehkan pelaksanaan ibadat Gereja Katolik.[2] Yang pasti ialah bahwa Gubernur Jenderal harus melaksanakan dekrit 9 Februari 1807 artikel 22 dan 23.

Bersamaan dengan dekrit kebebasan beragama itu, pada tahun yang sama 1807, dua Romo diosesan pertama tiba setelah mendapatkan otorisasi sebagai misionaris dari pemerintahan Kerajaan Belanda ke tanah kolonial (tertanggal 4 Maret 1807). Romo-romo itu adalah J. Nelissen dan L. Prinsen. Di Hindia Timur kedua Romo ini mendapat otorisasi dari Gubernur Jenderal dengan segala hak dan kewajibannya seperti para Pendeta Protestan lainnya yang sudah terlebih dulu ada di Indonesia. Dari “hak” itu, antara lain, mereka mendapat gaji dari pemerintahan Belanda, seperti pendeta Protestan. Dari sendirinya, “kewajiban” mereka adalah tunduk kepada pemerintahan kolonial. Keduanya dikirim oleh pemerintahan kerajaan hanya untuk mengurusi iman umat Katolik Belanda.

Sampai di sini, keberadaan umat Katolik Belanda (atau komunitas Katolik Eropa) dijamin oleh konstitusi kolonial. Tetapi, misi Katolik, dengan demikian seolah-olah seperti berada “di bawah” pemerintahan kolonial Belanda. Sebab negara (kerajaan Belanda yang direpresentasi pemerintahan kolonial) yang mengirim para romo misionaris; negara yang menggaji mereka; negara yang menjamin keamanan mereka; dan negara yang menentukan dimana mereka bertugas, apa yang boleh dan tidak boleh dikerjakan. Empat puluh tahun pertama “misi Katolik” atas otorisasi pemerintahan kolonial semacam ini tidak ada masalah runyam, karena misionaris masih sangat sedikit dan mereka hanya bisa melayani keluarga Belanda/Eropa. Para misionaris seperti bisa diangkat dan dipecat oleh pemerintah kolonial. Agama seolah dipahami dalam bahasa Latin, est quasi serva, in vinculis gubernii constricta (sebagai hamba dalam ikatan rantai gubernur).

Pada tahun 1843, saat Batavia menjadi Vikariat yang memiliki tiga paroki (Batavia, Semarang, dan Surabaya), diangkatlah Mgr. J. Grooff yang berasal dari Suriname menjadi Vikaris Apostolik pertama. Terjadilah perkara perseteruan “besar” antara Mgr. J. Grooff dan Gubernur Jenderal J.J. Rochussen. Dan, perseteruan inilah yang kelak akan mengubah tata relasi antara pemerintahan kolonial dan misi Gereja Katolik di wilayah kolonial (Indonesia).

Karena perilaku dua imam misionaris di Surabaya[3] yang kurang sepantasnya dan  konon itu sudah terjadi sebelum berangkat misi ke Indonesia, Mgr. J. Grooff sebagai Vikaris Apostolik membekukan penugasan pastoral mereka. Sementara itu Gubernur Jenderal J.J. Rochussen berpikir lain, hanya dialah (sebagai gubernur) yang bisa mengirim, mengangkat, dan memecat imam Katolik dari tugasnya, sebab keberadaan para misionaris ada dalam otorisasi pemerintahan kolonial. Dari sendirinya, campur tangan Gubernur Jenderal atas otoritas kanonik Vikaris di wilayah kegerejaan tidak bisa diterima. Mgr. Grooff membela habis-habisan kebebasan mutlak otoritas Gereja Katolik dalam urusan perkara kegerejaan di wilayahnya. Konflik rupanya makin besar. Akibatnya, Rochussen memerintahkan Vikaris Apostolik, Mgr. J. Grooff dan dua imamnya untuk keluar dari wilayah koloni Hindia Timur (19 Januari 1846). Sebuah peristiwa yang sangat menyedihkan bagi Gereja Katolik Indonesia pada umumnya, dan secara khusus juga umat Katolik Surabaya.

Perkara konflik besar dari Mgr. J. Grooff dan pemerintah Rochussen di koloni Hindia Timur sampai di telinga umat Katolik di negeri Belanda. Umat Katolik marah dengan pemerintah kolonial, dan Mgr. Grooff disambut dan dipandang sebagai “pahlawan iman” karena keberaniannya menentang campur tangan pemerintah mengenai urusan intern Gereja.

Nuntius Mgr. Ferrieri mengambil inisiatif untuk melakukan mediasi. Mgr. Ferrieri menjalankan negosiasi dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Rupanya, negosiasi tidak sia-sia. Dari negosiasi itu muncullah beberapa peraturan yang berbeda, diantaranya seperti ini:

No. 7. Gubernur Jenderal tidak campur tangan dalam urusan wilayah kegerejaan, kecuali jika perkara Gereja menjadi bahaya atau membahayakan di wilayah dimana dia [Gubernur Jenderal] dimaksudkan untuk menjalankan tugasnya.

No. 8. Perkara Gereja tetap dan selalu menjadi kekuasaan Prelat untuk alasan-alasan yang secara eksklusif menjadi wilayah kewenangannya terutama berkaitan dengan fungsi yuridis spiritual sebagaimana ditetapkan olehnya maupun karena kekuasaannya untuk masalah-masalah kegerejaan. Gubernur Jenderal hanya akan membantu perkaranya, apabila ada dalam hubungan langsung dengan privilese sipil dan halnya dikerjakan setelah didengarkan komunikasi sebagaimana ditetapkan.

No. 11. Para misionaris yang dikirim ke Hindia Belanda harus melengkapi dirinya dengan Surat Radicaal (Formula A); biaya perjalanan mereka ada dalam tanggung jawab Gereja Katolik, tidak lewat pintu kas pemerintahan kolonial; demikian juga mengenai jumlah dan dimana mereka ditugaskan, halnya ada dalam wilayah Gereja Katolik.

Dapat disimpulkan, setelah pertengkaran Mgr. Grooff dan Gubernur Jenderal Rachussen, Gereja Katolik mendapatkan pengakuan prinsip-prinsip kebebasannya. Gereja Katolik tidak lagi terkait secara konkret sebagai “pelayan” pemerintahan kolonial, melainkan “Pelayan Injil”. Dan, karya misi Katolik tidak lagi ada dalam otoritas negara (dan, karena ini terdapat Surat Radicaal) melainkan menjadi kewenangan pemimpin Gereja. Dalam arti ini, Gereja Katolik Indonesia tidak lagi menjadi perpanjangan tangan pemerintahan kolonial Belanda. Konon karena persoalan ini, Gereja Katolik “dipuji” oleh seorang penulis sejarah, Mr. de Graaf (seorang protestan?), telah menjadi “tuan di rumah sendiri.”[4] Menurut Romo van Winsen, pujian itu dianggap berlebih-lebihan.

Contoh, tanggal 10 Maret 1891, Mgr. Luypen SJ, Vikaris Batavia harus mengajukan permohonan kepada Gubernur Jenderal W.G.C. Pijnachir Hordijk agar diperbolehkan menempatkan satu atau dua misionaris di Bali.

Sebab, di lain pihak, karena wilayah Hindia Belanda ada dalam kekuasaan pemerintah Kolonial, para misionaris tetap tidak bisa menentukan sendiri ke mana mereka akan mewartakan Injil. Wilayah misioner adalah wilayah kolonial, maka dalam hal ini kewenangan Gubernur Jenderal tidak tergoyahkan. Adalah hak dan kewenangan pemerintahan kolonial untuk menentukan kemana dan dimana para misionaris boleh dan tidak boleh mewartakan Injil. Para misionaris Katolik hanya boleh mewartakan Injil di antara umat Belanda saja! Para misionaris dengan kata lain, karena peraturan ini, dilarang membaptis penduduk setempat.

Ketika terdapat pemberontakan di Yogyakarta dan Surakarta, Romo Scholten mengunjungi pasukan Belanda untuk pelayanan spiritual dan dia tidak menjumpai umat Katolik Jawa. Belum ada pusat-pusat komunitas misi Katolik di sana. Dalam arti ini, tidak mengherankan bahwa Gereja Katolik di Indonesia sampai tahun 1900 lebih merupakan “Gereja kulit putih” atau Gereja Belanda. Atau, bahkan dalam konteks misi Wilayah Surabaya, sampai tahun 1923, umat Katolik Jawa tidak mengherankan hanya ada 40 saja.

Dalam Staadsblad 2 September 1854 artikel 123 terdapat “peraturan baru” mengenai evangelisasi di wilayah koloni, yang oleh Romo Visser MSC (misionaris di wilayah Maluku) dipercayai sebagai semacam “jaminan” negosiasi Mgr. Ferrieri untuk Gereja Katolik mendapatkan kebebasannya dari campur tangan pemerintah kolonial. Dalam artikel itu (123) disebutkan, setiap misionaris atau pastur harus mendapat ijin khusus dari Gubernur Jenderal apabila hendak mewartakan Injil ke suatu wilayah. Secara politis artikel ini diperlukan untuk menjaga “ketenangan” di wilayah kolonial dari kemungkinan konflik religius. Tetapi, jelas artikel ini memiliki imbas “ketidak-bebasan” para misionaris kemana mereka bisa bergerak. Dan, kelak artikel ini juga akan menentukan sejarah peta politik religius di wilayah Indonesia hingga hari ini.

Perlu diketahui, artikel ini tidak disebutkan dalam Surat Radicaal para misionaris. Dalam surat Radicaal misionaris hanya disebutkan Indisch Staatsblad 1856, no. 21 yang berisi privilese pemegang surat tersebut untuk mendapatkan hak-hak sipil dari pemerintahan kolonial. Tetapi, dengan kenyataan bahwa seorang misionaris memegang surat Radicaal (produk dari negosiasi Mgr. Ferrieri tahun 1847), dari sendirinya dia terikat oleh hukum sesudahnya, yaitu artikel 123 dari tahun 1854.

Gubernur Jenderal, karena kewenangan yang mengalir dari Staatsblad 1854 artikel 123, melarang misi Katolik di wilayah-wilayah Aceh dan Batam, juga Banten yang merupakan wilayah Islam dan Bali yang “dikhususkan” untuk umat Hindu.

Artikel 123 dari Staatsblad 1854 juga diberlakukan oleh Gubernur Jenderal untuk “mengatur” agar jangan terjadi “dobel misi”. Maksudnya, misi Katolik dan Zending Protestan jangan sampai berbenturan satu sama lain. Dalam hal ini, tampak dari larangan Gubernur Jenderal untuk membuka sekolah para suster dari “Bois-le-Duc” di Minahasa (1898); juga prinsip mengenai dobel misi untuk Papua (1912-1927). Halnya juga bagi wilayah Sumba, yang hanya diperkenankan di wilayah Laora (1929). Juga untuk satu dua wilayah kepulauan Ambon, yang tak pernah bisa disentuh oleh misi Katolik.

Pelarangan pemerintahan Gubernur Jenderal ini bisa menjelaskan, mengapa setelah martir para misionaris Karmelit Portugis di Aceh (Dionisius dan Redemptus), misi Katolik disana tidak bisa dilanjutkan. Juga, hal yang sama juga untuk realitas mengapa banyak orang Batak Kristen, juga umat Papua Kristen, sementara umat Katolik banyak ada di Flores, yang adalah wilayah Portugis.

Barangkali juga karena alasan ini, Romo van Lith SJ “tidak membaptis” umat Jawa; sebab yang mewartakan Injil di antara umat Jawa adalah para alumni dari Sekolah yang didirikannya. Hal yang sama juga akan kelihatan dari “cara” bagaimana para Romo CM melibatkan para pewarta awam (guru-guru agama) di banyak stasi di Blitar-Kediri, dan Madiun.

Berikut ini beberapa reaksi ketidak-puasan dari para pemimpin misi di Indonesia atas pelarangan dan restriksi pemerintahan kolonial berdasarkan Staadsblad 1854 artikel 123 tersebut:

–       Mgr. Noyen SVD, Prefek Apostolik pertama dari kepulauan “Sunda Kecil” (sebutan waktu itu untuk wilayah dari Bali sampai Timor) secara terus terang menulis protes terhadap artikel 123, yang menghalangi keleluasaan pelaksanaan evangelisasi di wilayahnya. Bahkan untuk mengunjungi daerah Bali tiga kali satu tahun pun atau kurang, dia harus minta ijin Gubernur Jenderal.

–       Romo Visser MSC, yang bertugas di kepulauan Ambon, secara dramatis menulis masalahnya demikian, “Mengapa misi kami cuma ada di pulau-pulau yang kurang signifikan [dari sisi sosiologis-politis]? Ingin tahu masalahnya? Ini disebabkan pemerintahan Hindia Belanda melarang kami bergerak kemana kami mewartakan Injil. Syukur kepada Allah, sebagian besar masyarakat masih tetap setia kepada evangelisasi Katolik. Sebab mereka tahu kami mewartakan Injil bukan atas perintah Pemerintah Hindia Belanda, melainkan karena perintah Kristus, tetapi juga karena atas mandat dari Bapa Paus yang telah mempercayakan wilayah ini kepada misionaris Katolik.

 

***

 

Sampai tahun 1895 para misionaris, yang kedatangannya di wilayah Indonesia (Hindia Belanda) atas otoritas Kerajaan Belanda, praktis hanya mewartakan Injil di antara umat Eropa Katolik. Mgr. Ferrieri pernah meminta CSSR di Wittem untuk mengirim para romonya ke Hindia Belanda, tetapi mereka menolak karena mereka harus menjalankan hidup komunitas, sementara jumlah mereka juga belum banyak.

Pada waktu Mgr. P.M. Vrancken menjadi Vikaris Apostolik (1848-1871), dia meminta Romo Superior Yesuit, A. v.d. Leeuw, untuk mengirimkan para misionarisnya. Romo Yesuit pertama tiba di Jawa tanggal 9 Juli 1859. Dan menjelang tahun 1900 Romo van Lith SJ mendirikan sekolah-sekolah yang kelak menjadi “paradigma” evangelisasi dalam karya misi di Indonesia. Yaitu, evangelisasi lewat pendidikan dan para pelakunya adalah para awam guru.

Kesulitan para misionaris mewartakan Injil selama abad 19 dan awal abad 20 sangat dikondisikan oleh kebijakan politis dari pemerintah kolonial Hindia Belanda. Ketika semangat misioner para pewarta Injil berkobar-kobar, posisi kehadiran mereka “dijepit” oleh kebijakan politis Belanda. Diantaranya, terdapat keyakinan pragmatis bahwa mentobatkan orang Indonesia hampir tidak mungkin. Mereka memiliki keyakinan aneh karena keterkaitannya dengan alam. Dan, ditambah lagi, posisi politis dari pemerintaha Hindia Belanda mengenai wilayah-wilayah yang “dilindungi”, seperti Aceh. Profesor antropologi dari Leyden, Snouck Hurgranje, adalah eksponen pemerintah yang darinya posisi politis pemerintah kolonial untuk tidak mengijinkan para misionaris mewartakan Injil di beberapa wilayah berasal.

Tetapi para misionaris Katolik menolak tesis Snouck Hurgranje.[5] Mereka yakin bahwa masyarakat Indonesia memiliki hati yang terbuka akan kebenaran Injil. Lebih lagi, mereka memiliki kerinduan terdalam akan Sabda Tuhan.

Posisi politis pemerintah kolonial ini menjelaskan secara lebih gamblang mengapa umat Jawa Katolik demikian sedikit meski telah sekitar 100 tahun-an Gereja Katolik didirikan di Surabaya. Pada tahun 1923, saat wilayah Surabaya diserahkan oleh Propaganda Fide kepada CM, umat Katolik hanya 40 orang. Para misionaris memang dilarang untuk membaptis yang bukan umat Eropa dan Belanda. Larangan semacam ini kembali kepada sejarah dan aneka ketentuan Staatblad yang diringkas dalam surat Radicaal, yang intinya tetap “mengikat” para misionaris untuk tunduk kepada tata hukum kolonial. Maksudnya, agar para misionaris tetap “tunduk” kepada tatanan pemerintah kolonial. Dan, para misionaris tetap tidak bisa leluasa pergi dan mewartakan Injil kemana pun. Dalam maksud ini, mengapa pulau Madura (Muslim) dan pulau Bali (Hindu) tidak ada pewartaan Injil sejak itu, alasannya dalam sejarah: karena dilarang oleh kebijakan politis pemerintah kolonial.



[1] Ketika pecah perang Diponegoro tahun 1825-1830, seorang pastur dari Jakarta mengunjungi wilayah yang menjadi tempat pertempuran. Dia menulis pengalamannya, bahwa pada waktu itu belum dijumpai komunitas umat Katolik atau sejumlah umat Katolik di Jawa Tengah. Lih. Gerard van Winsen CM, “Motifs de l’assistance missionnaire hollandaise a l’Indonesie (1800-1920)”, in Neue Zeitschrift für Missionswissenschaft, 1974, 52-61. Kenyataan ini menunjukkan betapa kehadiran VOC benar-benar telah menghancurkan karya misi Katolik yang ada sebagaimana itu terjadi di Tidore Ternate dan di tempat-tempat lain dan tidak ada posibilitas untuk melakukan evangelisasi di tempat lain.

[2]Misalnya, lihat Karel Steenbrink, Catholics in Indonesia 1808-1900, Koninklyk Instituut Voor Taal Land (April 2004)

[3] Dari St. Cecilia-Zangkoor, 1838-1938 Onze Lieve Vrouwe Kerk en St. Cecilia-Zangkoor Surabaia (1938), kita bisa tahu nama dari kedua Romo ini. Mereka adalah Romo Thijssen Pr dan Romo Kerstens Pr. Konflik terjadi tahun 1845. “Na pastoor Thijssen kwam spoedig het conflict van het Gouvernementmet den lsten Apost. Vicaris von Indie, Mgr. Grooff. Postoor Kerstens, die met veel toevijding te Serabaia werkzaam was, werd ook verbannen. De Kotholieken van Soerabaia”, zoo wordt vermeld, ,,namen innig deel aan deze droeve gebeurtenis en overhandigden Postoor Kerstens bij zijn uitzetting een hortelijk adres van hulde en erkentelijkheid. Bijna 2 jaren lang bleef Soerabaia van alle geestelijke hulp verstoken. De Kerkdeuren waren verzegeld.. .. . . Het H. Misoffer werd niet meer opgedragen …  het was, als ten tijde van Jeremias: ,,Zie, o Heer, en ontferm U onzer……, zie Uw heiligdom, vereenzaamd, het huis des gebeds en van Uw luister verlaten, waar eenmaal onze Vaderen U lof toezongen” (kronik 1845, hlm. 5). Informasi yang sangat penting ini artinya kurang lebih demikian: Pastur Thijssen konflik dengan Mgr. Groof. Pastur Kerstens juga dibekukan. Umat Katolik Surabaya, demikian disebut, juga mengambil bagian dalam peristiwa yang menyedihkan ini dan dalam pengusiran Pastur Kerstens tanpa hormat dan tanpa ucapan terimakasih. Hampir dua tahun Surabaya tanpa bantuan pelayanan spiritual. Pintu Gereja telah dikunci. Peribadatan suci tidak dikerjakan. Pada saat-saat seperti itulah kita seperti Jeremia yang berseru: “Lihatlah kami dan Kasihanilah kami o Tuhan. Kunjungilah tempat sucimu yang kosong dimana pernah nama-Mu selalu dipuji.”

[4]H.J. de Graaf, Geschiedenis van Indonesië, s’Gravenhage-Bandoeng, 1949, 466.

[5] Lih. Gerard van Winsen CM, “Motifs de l’assistance missionnaire hollandaise a l’Indonesie (1800-1920)”, in Neue Zeitschrift für Missionswissenschaft, 1974, 52-61.

Misi 1923 di Surabaya

Misi 1923 di Surabaya

 

Rm Armada Riyanto CM

[Nukilan dari Makalah studi, “Sejarah Hati Misi. 90 Tahun CM Indonesia dan 50 Tahun CM Roma di Keuskupan Surabaya”. Makalah disampaikan dalam hari studi tanggal 23 Januari 2014 di Kepanjen Surabaya]

Ketika lima Romo CM (Congregatio Missionis) pertama tiba di Surabaya tanggal 6 Juli 1923 untuk menggantikan misi para Romo Yesuit, bagaimana keadaan misi Katolik di wilayah Surabaya ketika itu? Pertanyaan ini untuk mengantar kita kepada imaginasi bagaimana para Romo CM atau para Vinsensian atau juga disebut Lazaris ini mengawali misi di wilayah yang kelak akan menjadi Keuskupan Surabaya.

Ada dua sumber historis perihal misi awali para perintis Keuskupan Surabaya ini. Yang pertama berasal dari majalah misi provinsi Belanda yang disebut St. Vincentius a Paulo. Missietijdschrift der Lazaristen; dan yang kedua terbitan CM pusat di Paris yang disebut ANNALES DE LA CONGREGATION DE LA MISSION ET DE LA COMPAGNIE DES FILLES DE LA CHARITÉ. Kedua sumber ini tentu saja menunjuk pada edisi tahun 1923 (yang tak sulit dilacak), saat misi ke Indonesia dikerjakan pertama kalinya. Kedua sumber ini mengatakan hal reportase yang sama dan bahkan juga kalimat yang sama atau serupa. Maka, keduanya berasal dari satu sumber.

Apa yang dikatakan oleh kedua sumber ini? Yang diceritakan ialah kisah bagaimana informasi pertama misi ke Indonesia ini disampaikan; bagaimana keadaan awal kondisi misi Katolik di Surabaya; berapa luas wilayah, berapa jumlah penduduk, berapa jumlah umat.

Pada tahun 1923, yang menarik, diinformasikan bahwa di seluruh wilayah misi Surabaya dan sekitarnya umat Katolik dari Jawa masih hanya 40 orang! Sesedikit itu? Saya berusaha menelisiknya dari sumber-sumber historis untuk menyimak informasi ini.

Pada waktu itu, misi ke pulau Jawa ini disebut misi ke “Öost Indie” atau “mission des Indes Orientales” (atau Hindia Timur). Tahun 1923 sebutan “Indonesia” belum muncul. Dalam frase pertama laporan di Annales dikatakan bagaimana Romo Superior Jenderal memberikan kabar kejutan yang menyenangkan sekaligus menggetarkan bagi para konfrater provinsi Belanda. Dan, itu dikatakan di awal tahun dalam “circuler”-nya (semacam surat edaran). Kejutan itu berupa sebuah “harapan” dari Romo Jenderal, Romo Verdier CM, bahwa Provinsi Belanda, setelah memiliki misi di Vicariat Yungpingfu (Cina) dibawah kepemimpinan Mgr. Geurts CM, diharapkan segera pula melanjutkan semangat misinya yang berkobar-kobar ke pulau Jawa.

Kalimat sederhana itu, harapan Romo Jenderal, bila dibaca oleh para konfrater Belanda yang pada waktu itu sangat terkenal karena semangat misionernya,[1] tentu saja merupakan sebuah “berita luar biasa” yang ditunggu-tunggu dengan kerinduan besar untuk segera direalisasikan. Para Vinsensian atau Romo Lazaris atau para Romo CM Belanda adalah para misionaris. Seminari Tinggi CM, St. Jozef, di Panningen, pada waktu itu merupakan seminari dari para misionaris. Romo Vic Groetelaars CM, misalnya, yang berkali-kali menjadi provinsial Belanda, pernah bilang kepada saya, bahwa ketika dia mendaftarkan diri masuk seminari dan ingin menjadi misionaris ke romo parokinya (projo), spontan romo parokinya mengatakan agar dia ke Panningen!

Dikatakan lebih lanjut, bahwa perutusan misi ini atas panggilan Kardinal van Rossum CSSR, Prefek Kongregasi Propaganda Fide; dan bahwa kedatangan para misionaris CM sudah ditunggu oleh Vikaris Mgr. Luypen S.J. (Vikaris Batavia) segera setelah Paskah (tahun 1923). Kepada para misionaris CM, diserahkan tiga karesidenan: Surabaya, Rembang, dan Kediri.

Sedikit perlu diketahui, Kardinal Willem Marinus van Rossum adalah seorang redemptoris (CSSR), mantan rektor seminari tinggi di Wittem, Belanda. Secara pribadi Kardinal ini dikenal luas memiliki perhatian yang besar kepada pewartaan Injil di Asia, khususnya di Indonesia. Dialah Prefek Kongregasi Propaganda Fide yang “mengutus” para misionaris untuk giat menanamkan Gereja di Indonesia setelah sekian ratus tahun iman Kristiani dibawa oleh para misionaris awali.

Untuk lebih gamblangnya mengenai gambaran daerah misi baru itu (bagi para calon misionaris Belanda), disebutkan informasi bahwa ketiga daerah itu (karesidenan Surabaya, Kediri, dan Rembang) 20.000 km2 luasnya, kira-kira dua per tiga negara Belanda. Jadi, wilayah itu sangat luas! Jumlah penduduk 6 juta, dengan komposisi 5 juta lebih orang Jawa, 60 ribu Cina, dan 15 ribu orang Eropa. Menurut informasi terakhir terdapat 4.600 umat Katolik, terdapat 40 umat Katolik Jawa. Umat Katolik lainnya berasal dari Eropa, Cina/Tionghoa dan orang asing di luar yang disebutkan.

Dalam ANNALES, laporan tentang misi di “Indes Orientales” (Indonesia) dipublikasikan pada edisi bulan Juli 1923. Ini berarti para misionaris pertama CM Belanda telah tiba di Surabaya. Mereka adalah Romo Theophile de Backere CM sebagai superior (sebelumnya dia adalah direktur Seminari St. Vincentius de Paul di Wernhoutsburg), Romo Emile Sarneel CM (sebelumnya dia dosen di Wernhoutsburg), Romo Jan Wolters CM (sebelumnya bertugas sebagai kapelan di Rumpen), Romo Cornrille Klamer CM (yang berangkat dari Yungpingfu, Cina, dia berkarya lima tahun di sana, dan bertemu keempat romo lain di pelabuhan Singapora).

Disebutkan pula, bahwa perjalanan kelima misionaris CM pertama ke Surabaya 1923 ini merupakan “NAPAK TILAS” Romo Yohanes Gabriel Perboyre CM, yang singgah di Surabaya tahun 1835, sebelum melanjutkan perjalanan misi ke Cina dan menjadi santo martir pertama Cina. Kita bisa membayangkan, betapa para misionaris ini digelorakan tidak hanya untuk mewartakan Injil, melainkan juga memiliki model semangat misioner, Santo Yohanes Gabriel Perboyre. Perlu diketahui, Yohanes Gabriel Perboyre menulis surat kepada pamannya dari Surabaya dan mengisahkan tentang keindahan kota Surabaya dan sekitarnya. Kelak, para misionaris ini akan mengukir nama Yohanes Gabriel dalam aktivitas misionernya. Yayasan “Yohanes Gabriel” adalah contohnya. Sayang, nama ini belum terukir sebagai nama sebuah paroki, kata Romo Silvano Ponticelli CM, misionaris Italia yang berkarya di Ponorogo dan Tulungagung serta Seminari Tinggi CM Malang dan paroki Kristus Raja, Surabaya.

Sebelum berangkat, para misionaris CM pertama bukanlah romo-romo “biasa”, mereka belajar dan mengikuti perkembangan karya misi para pendahulu dan juga misi Zending Kristen di Jawa lewat sebuah majalah yang disebut Annales de la Mission. Misalnya, bagi para misionaris, perkembangan daerah kekristenan seperti Mojowarno, Jombang, sudah mereka ketahui sejak sebelum berangkat. Demikian juga, karya-karya pendidikan Romo van Lith SJ sudah mereka dengar dan baca sebelum perjalanan misionernya ke Indonesia. Lebih dari sekedar tahu dimana Hindia Timur, bagi para misionaris “Indes Orientales” adalah sebuah tanah harapan, tanah terjanji, wilayah yang subur bagi benih-benih Injil. Kelak, dalam beberapa tulisan mereka, sebutan-sebutan semacam ini akan cukup sering muncul.

Bahwa para Romo CM diserahi wilayah Surabaya, hal itu mereka pandang sebagai “Penyelenggaraan Ilahi”. Mereka mengenal Surabaya lewat berita-berita, bahwa kota ini memiliki prospek masa depan yang cerah. Mereka dianugerahi, mereka tidak memilih. Adalah Kardinal van Rossum yang berkata kepada Provinsial CM Belanda, Romo Harie Romans CM, bahwa para romo Yesuits telah memilih bagi mereka dua wilayah yang menjadi fokus misi, yaitu Jawa sentral (Jawa Tengah) dan Batavia (Jakarta).  

Kembali kepada pertanyaan awali di atas, apakah pada waktu para misionaris CM pertama datang tahun 1923, umat Katolik Jawa hanya berjumlah 40 orang saja?

Ada laporan menarik tentang statistik umat dari dua sumber berbeda. Yang pertama, dari Katholieke Gids edisi 1934 dst yang mengisahkan sejarah misi Surabaya dari 1810-1923; dan kedua, dari sejarah misi di Surabaya yang ditulis oleh Dr. J.C. Haest CM, dengan judul De Geschiedenis der R.K. Kerk te Soerabaja van 1906-1931 (ketikan). Kedua sumber ini dipakai sebagai bahan tulisan tentang “Sejarah Gereja Katolik di Wilayah Keuskupan Surabaya” oleh Romo Piet Boonekamp CM yang diterbitkan oleh H. Muskens dalam Sejarah Gereja Katolik, Indonesia.

Dari kedua sumber ini diketahui bahwa Gereja Katolik di Surabaya selama banyak tahun dilayani oleh dua Romo Yesuit (maksudnya sejak 1859). Maklum Surabaya merupakan SATU paroki saja. Karena wilayah begitu besar, sementara pekerja di ladang anggur Tuhan hanya ada dua saja, maka seluruh perhatian dan tenaga tercurah untuk pelayanan umat Katolik Eropa, Belanda saja. Tak bisa diandaikan bahwa pewartaan Injil di wilayah Surabaya bisa menjangkau pribumi atau umat lain di luar Belanda/Eropa. Semata karena jumlah imam yang hanya dua. Tetapi, bahwa Injil tidak sampai ke hati masyarakat pribumi bukan pertama-tama karena kurang tenaga, melainkan karena hukum kolonial. Hukum kolonial melarang penginjilan kepada masyarakat pribumi.

Pada tahun 1900, UNTUK PERTAMA KALINYA dicatat ada umat Katolik pribumi sejumlah 10 orang. Dan, untuk selanjutnya pertambahan jumlah umat Katolik pribumi (Jawa) kurang kelihatan. Dan, di tahun 1921 (kurang dua tahun para Romo CM pertama tiba di Surabaya), dalam laporan statistik disebutkan terdapat 25 umat Katolik pribumi dan 10 umat dari Timur Asing. Dan, jika waktu itu paroki di wilayah Surabaya hanya terdapat satu saja, wilayah paroki ini (paroki Surabaya tersebut) meliputi hingga Banyuwangi, Madura, Kalimantan Selatan dan Timur dan juga Makasar, Bali, dan bahkan Lombok. Jadi, wilayahnya sangat luas tetapi pekerjanya sangat sedikit. [Cf. Piet Boonekamp, CM, “Sejarah Gereja Katolik di Wilayah Keuskupan Surabaya”, dalam Sejarah Gereja Katolik Indonesia, 3b, 949+).

Jadi, informasi dari Propaganda Fide yang dipublikasikan ANNALES edisi Juli tahun 1923: masih terdapat 40 orang Jawa saja di Surabaya yang memeluk iman Katolik, halnya sungguh demikian adanya. Dan, barangkali juga karena “perlambatan” perkembangan jumlah umat inilah yang membuat Kardinal van Rossum CSSR, Prefek Propaganda Fide, meminta kepada Romo-Romo Yesuit untuk menyerahkan wilayah misi kepada beberapa kongregasi/ordo, diantaranya kepada CM di wilayah Surabaya dan Karmel di Malang dan sekitarnya.

Tanggal 6 Juni 1923 para misionaris kita berangkat dari pelabuhan Genova. Tanggal 30 Juni 1923 kapal Johan de Witt yang membawa para Romo CM pertama (dan Karmel) berlabuh di Batavia. Dan, untuk selanjutnya para Romo CM perintis keuskupan Surabaya ini meneruskan perjalanan ke Surabaya lewat darat dengan kereta api sambil menikmati pemandangan alam pertanian Jawa dan ragam alam nan indah.

Seperti dikatakan di atas, yang berangkat dari Belanda empat Romo: Dr. Theophilus de Backere CM, Emile Sarneel CM, Jan Wolters CM, dan Theodore Heuvelmans CM, serta seorang dari Cina, Cornrille Klamer CM.

Mengapa diantara kelima perintis CM dan keuskupan Surabaya ini, ada Romo yang datang dari Cina (yaitu, Romo Klamer)? Karena di wilayah Surabaya terdapat umat Katolik dari suku Tionghoa (Cina) yang berbahasa Mandarin. Diperlukan seorang imam yang bisa berbahasa Mandarin untuk melayani mereka. Pada tahun-tahun itu, bahasa yang secara umum dipakai berlaku untuk semua masih belum ada. Bahasa yang dipakai berkomunikasi di wilayah Surabaya: Bahasa Belanda, Inggris, Jawa, Cina, dan bahkan Arab (oleh sebagian komunitas orang Arab di kampung Arab, Kembang Jepun). Umat Tionghoa berbahasa Mandarin; umat Katolik Eropa (mayoritas) berbahasa Belanda; umat Jawa (yang masih hanya 40 orang) dari sendirinya berbahasa Jawa. Komposisi penduduk semacam ini direspon dengan strategi misioner sedemikian rupa oleh para Romo CM perintis Gereja keuskupan Surabaya. 

Kelima Romo CM perintis Keuskupan Surabaya ini membagi diri dalam tugas-tugas misi pastoral yang spesifik, di antaranya: Romo Heuvelmans melayani umat yang berbahasa Belanda; Romo Klamer untuk umat Tionghoa dan menjadi pastor paroki Hati Kudus Yesus; Romo Sarneel menjadi pastor rekan di Paroki; Romo de Backere menjadi Romo Superior; sementara Romo Jan Wolters, yang muda dan energik tidak diberi tugas apa-apa kecuali melakukan perjalanan keliling ke desa-desa untuk mewartakan Kabar Gembira kepada umat Jawa.

Para misionaris belajar bahasa Jawa. Seorang diantara kami, Rm Jan Wolters, dilepaskan [dari beban pelayanan kepada umat Eropa], ia berminat secara khusus untuk penduduk Jawa di pedalaman. Dia secara terus-menerus berkeliling melakukan misi di seluruh wilayah kami yang luas itu. Ia melintasi daerah-daerah pedalaman, mengunjungi sekolah-sekolah desa untuk melihat pelajaran agama para katekis pada anak-anak itu. Ia merayakan Ekaristi di kapel-kapel misi, mengunjungi kantor-kantor pemerintahan, keluarga-keluarga Katolik, memberkati perkawinan, membaptis anak-anak, berkotbah dan mendengarkan pengakuan dosa, melintasi sawah-sawah, perkebunan-perkebunan kopi dan tebu, hutan, sungai, lembah dan gunung. Setelah lelah biasanya ia kembali kepada kami, beristirahat 2 atau 3 hari dan memulai pekerjaan yang sama tetapi ke arah yang lain. – Tulis Rm de Backere CM, Pemimpin Misi Surabaya (1926)[2]

 

Kelak Romo Jan Wolters ini akan “dibantu” oleh Romo-Romo muda yang sangat giat yang datang ke Indonesia satu dua tahun berikutnya, di antaranya Romo van Megen CM (yang datang tahun 1924) dan Romo Anton Bastiaensen (yang tiba tahun 1925). Mereka bertiga sangat giat belajar bahasa Jawa dan bertugas secara khusus mendirikan dan melayani stasi-stasi umat di daerah Blitar, Kediri, dan Rembang. Romo Jan Wolters kelak kita kenali sebagai Romo yang mendirikan Gereja Katolik Pohsarang, sebuah Gereja yang memadukan secara indah khasanah iman Katolik dengan kekayaan dan kearifan kebudayaan Jawa.

Bukit-bukit menggelombang dan sungai-sungai berkelok-kelok menuju laut. Pegunungan selatan yang indah membentang luas, sunyi, gersang dan miskin. Di balik hutan lebat, yang menutupi pantai selatan, kami mendengar deburan ombak menggulung, pecah menghantam karang pantai. Juga di daerah itu Misi memiliki beberapa sekolah kecil. Di antara sedikit penduduk pegunungan yang sederhana itu, kabar gembira Injil mendapat sambutan. Ketika kami beberapa tahun lalu menjelajahi daerah itu, bahkan nama Katolik atau Romo belum dikenal. Sekarang, pada kunjungan kami terakhir, dipersembahkan Misa agung dan sejumlah umat menyambut, sedangkan para katekumen dan yang ingin tahu pun datang melihat … Oh tanah gersang selatan ini rupanya cocok untuk biji sesawi Injil. Rumah bambu yang luas itu dengan segera penuh. Mereka duduk di tikar. Di sisi yang satu, duduk bapak-bapak dan di sisi yang lain ibu-ibu dan anak-anak. Setelah saling menyapa, mula-mula dihidangkan kopi yang hitam pekat dan lezat manis. Kemudian menyusul pelajaran. Satu setengah jam mereka mendengarkan misisonaris dengan penuh perhatian, yang dengan contoh-contoh dari sekeliling lingkungan mereka berusaha menerangkan kebenaran-kebenaran yang luhur dari “agama baru” itu.

Perjalanan pulang ke tempat tinggal kami sementara di Sumberboto tidaklah mudah. Hari sudah gelap. Hujan telah menjadikan semuanya berlumpur dan kerbau-kerbau dengan kakinya yang besar dan berat itu telah membuat kubangan-kubangan di jalan. Sekali-kali kami merasakan cipratan air kotor ke arah kami. Lumayan. Kalau kami [Rm van Megen dan Rm Wolters] tiba di rumah, kami akan memutuskan siapa di antara kami berdua nampak paling tampan, haaha! Tuhan memiliki misionaris bermacam-macam jenis: “Misionaris-aspal” di kota-kota, “Misionaris-lumpur” di desa-desa; namun kami semua harus bekerja keras.

Pagi-pagi umat sudah hadir. Banyak pria, wanita dan anak-anak yang datang dari jauh untuk menghadiri Misa dan menerima Sakramen. Penduduk sekitar membantu kami menghiasi serambi dengan daun-daun dan bunga. Koper Misi kami jadikan altar. Di lantai tanah digelar tikar dan umat dapat duduk bersila. Ruang kecil yang kemarin masih sebagai dapur menjadi kamar pengakuan. Akhirnya Romo Bastiaensen dari Blitar datang untuk mengadakan Misa Agung. Kehormatan semacam ini belum pernah terjadi di daerah selatan. Betapa khusuk suasana umat dan katekumen dan betapa besar besar perhatian orang di luar halaman. Khotbah Romo van Megen dalam bahasa Jawa menjelaskan kebahagiaan, hak, namun juga kewajiban dan tanggungjawab masyarakat Katolik yang muda dan tentang para kepala petinggi Katolik. Suara tersebut terdengar sampai pada kerumunan di luar, mungkin sebagai awal rahmat pertobatan. Setelah doa penutup syukur, kepada mereka kami sajikan secangkir kopi yang nyaman dan kue manis dari tepung beras. – Tulis Romo Jan Wolters (1934) 

 

Dan di bawah ini penuturan Romo Jacob Bruno CM, paman Romo J. Klooster CM, saat mengikuti perjalanan Romo van Megen CM ke desa di Blitar Selatan.

 

Apakah kita besok akan mengunjungi sekolah-sekolah desa kita di daerah selatan? Tanya Romo van Megen … Esoknya kami jalan. Jalan memang hampir tak dapat dilewati. Selain tanah liat yang kuning kapur, masih ditambah jalan membelok menanjak yang dilewati sapi-sapi yang lari ke sana ke mari … Romo Wolters bersepeda dengan giat bersama dengan Rom van Megen ke Kali Grenjeng, Sumberboto. Saya memperoleh banyak kesempatan membayangkan kelelahan yang mereka alami setelah perjalanan-perjalanan semacam itu … Setelah Misa, mulailah dengan pelajaran agama. Romo van Megen melakukannya dengan serius. Selama tiga perempat jam ia mengajar dalam bahasa Jawa sangat lancar. Pelajaran agama sudah selesai, sekarang pembagian gambar-gambar, pada setiap gambar ada salah satu cerita. Santo Isidorus, pelindung para petani menjadi pusat perhatian dan diterima dengan “inggih-inggih” yang lantang dalam kelompok. – Tulis Rm Bruno CM ketika ikut Rm van Megen ke desa (1932)

 

Sementara itu, Romo Herman Kock CM, mengisahkan bagaimana mengawali sebuah misi di wilayah Mojokerto:

 

Sore hari dan malamnya kami segera melakukan kunjungan. Kunjungan kemana? Ke pemimpin masyarakat, ke Asisten Residen, ke kepala-kepala sekolah atau guru-guru sambil berpesan agar para murid datang ke Katekismus. Bagaimana itu semua dilakukan? Dengan naik kereta api, atau dokar atau kuda, atau numpang mobil umat (Belanda) atau kunjungan dengan sepeda atau jalan kaki. Esok hari-nya setelah Misa kudus di gereja Mojokerto yang kecil dan mungil, pembagian tugas dibicarakan. Romo Wolters mengunjungi pabrik-pabrik gula; saya memberikan pelajaran Katekismus dan sore harinya kunjungan keluarga lagi. Kami dapat mengunjungi 80 keluarga! Kunjungan umat lebih berguna [lebih efektif] daripada kotbah di gereja. Tengah malam kami menyudahi kunjungan, dan kembali ke pondok, mengaso dan membuat persiapan untuk esok harinya dan dengan demikian tugas sehari-harinya selesai. – Cerita Rm Herman Kock CM saat tugas pertama di Mojokerto bersama Rm Wolters (1924)

 

Yang jelas strategi misioner para perintis Keuskupan Surabaya jauh lebih kompleks dari yang bisa dibayangkan sebagai sebuah seri aktivitas kunjungan umat dan memberi pelajaran agama kepada para calon baptis.

Dalam kaitannya dengan “strategi misioner”, yang paling mengharukan untuk diingat ialah apa yang diceritakan oleh Romo Anton Bastiaensen CM perihal “cinta mati” (cinta yang sangat besar dan berkobar-kobar) dari Mgr. de Backere CM kepada umat yang kelak akan disebut keuskupan Surabaya ini. Mgr de Backere CM selalu memberi semangat kepada para misionaris muda yang baru tiba agar belajar bahasa Jawa dengan giat dan rajin. Mengapa? Sebab, bila hanya tahu bahasa Belanda, “Romo hanya bisa berkomunikasi dengan 5 ribu-an orang saja” (orang Belanda di Surabaya sekitar itu jumlahnya atau lebih), tetapi “apabila Romo belajar bahasa Jawa, Romo akan bisa berkomunikasi dengan 5 juta-an manusia lebih!”

Konteks himbauan Mgr de Backere CM ini sudah barang tentu klop dengan pesan dari Propaganda Fide untuk mewartakan Injil tidak hanya kepada umat Belanda/Eropa melainkan juga kepada umat suku Tionghoa, dan terutama umat pribumi, Jawa. Belajar bahasa berarti belajar “kebudayaan”, belajar kehidupan sehari-hari, belajar “hati-diri” terdalam dari masyarakat.

Inilah yang barangkali harus dikatakan sebagai “strategi misioner”, yaitu bahwa pewartaan Injil haruslah menyentuh “hati-diri” terdalam dari masyarakat. Yaitu, pertama-tama hidup setiap misionaris adalah cinta itu sendiri. Bahwa para romo CM sungguh mencintai perutusan misioner dari Gereja; bahwa mereka meninggalkan keluarga, sahabat, teman di negerinya untuk sebuah cinta kepada umat di wilayah Surabaya; bahwa mereka memberikan dirinya, cintanya kepada umat di sini; bahwa tidak ada kata lain yang tepat untuk melukiskan motivasi mereka pergi mewartakan Injil dan membangun umat serta keuskupan ini di luar cinta.

Strategi berikutnya adalah belajar bahasa umat yang mendapat pewartaan Injil. “Bahasa” bukan hanya alat komunikasi, melainkan pertama-tama cetusan kultural dan relasional manusia. Para Romo CM perintis Keuskupan Surabaya mewartakan Injil dengan cara “menerobos” relasi hingga pada level kedalaman ini. Kelak, karena strategi misioner semacam ini, para misionaris perintis kita dikenal sebagai “wong Londo sing pinter basa Jawa” (orang Belanda yang pandai berbahasa Jawa) atau “Londo sing jawani” (orang Belanda yang paham kebudayaan Jawa).


[1] Untuk menggambarkan semangat misioner konfrater Belanda, barangkali cukup diketahui dari statistik tahun 1937. Pada waktu itu di Belanda total ada 227 anggota CM (novis 35 orang; frater studi 50 mahasiswa!). Dari jumlah 227 anggota, imam semuanya 123. Dari 123 imam, yang tinggal di Belanda hanya 48, sementara yang pergi misi sejumlah 75 imam.  Lih. St. Vincentius a Paulu, Missietijdschrift der Lazaristen 1937.

[2] Lih. St. Vincentius a Paulo. Missietijdschrift der Lazaristen, 1926.

First Journey 1923 to Java

First Journey 1923 to Java

Perjalanan Jauh Menuju Jawa

 

 (Nukilan dari: Armada Riyanto CM, 80 Tahun Romo-Romo CM di Indonesia 2003)

            Wernhoutsburg (Belanda) – Paris (Perancis) – Genoa (Italia) – Singapura – Batavia (Jakarta, Indonesia). Inilah rute perjalanan panjang para misionaris CM pertama dari Belanda ke Jawa. Dari Wernhoutsburg ke Paris, dengan kereta api. Juga dari Paris ke Genoa (rupanya juga mampir sebentar di Roma). Selanjutnya, dari pelabuhan Genoa misionaris kita memulai perjalanan panjang yang melelahkan, memabukkan, mendebarkan tetapi juga indah. Lewat laut. Menuju Batavia. Dari Batavia ke Surabaya.

            Pada malam hari tanggal 5 Juni 1923 kami berangkat (dari Paris)[i] dengan kereta api malam menuju Genoa dan pukul tujuh keesokan harinya kami sampai di tujuan. Pukul delapan kami lalu mempersembahkan Misa di tempat para konfrater Italia, dan setelah sarapan menu Italia kami diantar ke Campo Santo, sebuah makam yang kata orang merupakan makam terindah di Eropa. Kami diterima dengan sangat ramah oleh para konfrater. Sayang, kami tak dapat tinggal lebih lama. Jam tiga siang kami harus ke kapal Johan de Witt, yang telah siap di pelabuhan. Para Bruder membantu mengangkat barang-barang kami dengan kendaraan kecil sehingga kami dapat melihat-lihat pelabuhan Genoa yang ramai itu dengan santai.

            Para Romo Karmelit dan enam Suster Ursulin sudah mendahului kami, diantara para Suster itu terdapat juga Suster Superior dari Surabaya. Dengan tiga pater Karmelit itu, kami sudah saling mengenal dan saling berkunjung sewaktu di Roma. Mereka merupakan teman-teman seperjalanan yang menyenangkan dan kami pasti akan menjadi tetangga yang baik di Jawa.

            Para misionaris kita yang pertama, seperti sudah disebut di atas, ialah Romo Dr. Th. de Backere CM, Romo E. Sarneel CM, Romo Th. Heuvelmans CM, dan Romo J. Wolters CM. Tetapi yang menulis kalimat-kalimat di atas ialah Romo Wolters. Menarik untuk menyimak bahwa mereka seperti diatur oleh Penyelenggaraan Ilahi berada dalam satu kapal menuju Indonesia dengan para misionaris dari Karmelit dan Ursulin. Kelak, yang dikatakan Romo Wolters, bahwa “kami pasti akan menjadi tetangga yang baik di Jawa” terbukti lestari dengan banyak kerjasama yang dijalankan (Misalnya kerjasama dalam mendirikan dan mengurus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana (1971) yang dimaksudkan untuk memproduksi secara bermutu para petugas Gereja dan para pewarta Injil dan beberapa karya yang lain). Bagaimana kehidupan sehari-hari di atas kapal? Romo Wolters punya cerita:

Begitu sampai di kapal Johan de Witt yang bagus, bersih dan terkenal itu, kami ditunjukkan kabin-kabin kami. Para Suster berada di seberang kamar kami, sedangkan para Romo Karmelit satu pintu berikutnya. Di ruang makan kami mempunyai satu meja khusus, untuk 13 orang. Para petugas kapal sangat sopan dan ramah. Setiap pagi pukul setengah enam atau enam, kami dapat mempersembahkan Misa di ruang anak-anak.

            Hari ini, Minggu 10 Juni 1923 kami mengadakan Misa agung pada jam setengah sebelas di ruang makan kelas satu. Hadirin mencapai kurang lebih 40 penumpang, dan setelah Injil, Superior kami Pastor Th. De Backere memberikan homili singkat.

Kapal yang termuati penuh itu melaju dengan lancar, dengan kecepatan 15 mil per jam. Kehidupan di atas kapal cukup menyenangkan: kami mendapat rekan seperjalanan yang baik, sehingga pelayaran tidak terasa membosankan. Kami dapat istirahat sepenuhnya dan sama-sama ngobrol, lebih-lebih di malam hari di atas dek di “pojok hitam” kami. kami melakukan pelbagai acara hiburan, seperti siapa yang pertama mabuk laut harus menraktir semua. Di situlah kami selalu berusaha mengintip. Suatu malam kami bertiga Romo Prior, Pastor Heuvelmans tanpa berkata apa menjauhkan diri. Saya menjadi curiga dan terus mengamatinya. Selanjutnya dia meloncat dan benar … sesuatu telah tumpah ke laut. Sambil tertawa, saya berdiri disampingnya, sedangkan Romo Prior dari kejauhan memandangi tontonan itu dengan penuh belas kasihan … ”sudah-sudah, toh pasti akan ada lagi yang menyusul [tumpah]!” … Setelah itu selesailah sudah, kecuali bahwa tentu saja masih harus ada pemenuhan perjanjian, dan saya harus jujur, bahwa janji menraktir sungguh ditepati.

            Ternyata memang Romo Th. Heuvelmans termasuk salah satu yang paling menderita, mabuk laut, kendati dia memiliki fisik yang bagus. Pada waktu itu, bersama dengan Romo Wolters, Romo Heuvelmans masuk dalam angkatan paling muda. Yang paling senior tentu saja Romo de Backere dan menyusul berikutnya Romo Sarneel. Dalam suratnya tanggal 22 Juni 1923 Romo Heuvelmans dari Panningen menceritakan pengalaman “pahitnya” sebagai sesuatu yang justru menggembirakan:

Bagi saya perjalanan laut itu mulai dengan sesuatu yang tidak menyenangkan: belum  dua jam di atas kapal, saya sudah muntah-muntah tiga kali. Saya langsung menelusup di tempat tidur dan tidur nyenyak. Pagi harinya saya sudah sehat walafiat seperti ikan di laut. Itu adalah “persembahan” saya bagi Dewa Neptunus yang pertama dan sampai sekarang yang terakhir. Yang lain-lain, kecuali mungkin Pastor Sarneel, juga mabuk laut. Namun itu malahan menjadi bahan tertawaan dan lelucon dari waktu ke waktu. Begitulah selanjutnya hari-hari itu terisi dengan kegembiraan.

            Sayang bahwa kami harus bangun pukul lima pagi, untuk mengurbankan Misa harian. Pengurbanan kecil yang setiap hari terus berulang itu membuat heran teman saya sekabin yang ateis, namun dia sangat ramah dan baik, bahkan yang Katolik pun belum tentu lebih baik dari dia. Rosario dan brevir saya doakan di hadapannya, sehingga ia tahu siapa saya. Namun ia tak pernah mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan.

Romo Wolters menceritakan kembali kisah perjalanan para misionaris kita mampir di Pelabuhan Said (Mesir) dan melakukan sedikit keliling kota, menikmati Laut Merah, lewat terusan Suez, serta pengalaman mendapat badai laut.

            … Sekarang kami sudah berada dekat Port Said. Nanti malam pukul satu, kami akan memasuki pelabuhan tersebut, dan pukul enam pagi akan mulai memasuki terusan Suez. Perjalanan sekonyong-konyong berubah. Yang biasanya kami melihat di horison kapal-kapal, sekarang unta-unta berpunuk. Terhadap kota Djibouti, kami hanya dapat memberi salam dari kejauhan, begitu juga Alitiena …

            Hari Selasa pagi tanggal 19 Juni kami berada di tengah Samudra Hindia. Jumat pagi kami sampai di Colombo dan berhenti selama enam jam untuk kemudian berlayar ke Sabang. Tetapi, kita kembali sebentar ke Port Said agar tidak melupakan sesuatu. Kami tiba di pelabuhan Mesir ini pada hari Senin malam. Baru saja kami melewati menara-menara, perahu-perahu pemandu yang kecil sudah berbondong-bondong menuju kami. Kapal membuang sauh dan tangga diturunkan. Pastor Heuvelmans dengan saya sudah berada di bawah; setelah berdayung sejenak kami sudah berada di dermaga.

            Namun sebelum kami dapat lolos, orang-orang itu sudah meminta: “Hadiah tuan”. Permintaan selalu kami tolak, sesuai anjuran mereka yang sudah berpengalaman. Karena tidak jauh dari situ sudah ada polisi yang mengadakan transaksi pembayaran. Di situ mulai ada penipuan: 50 sen tiap orang.

            Kami masuk kota, setidak-tidaknya di jalan yang diterangi lampu, karena di luar kota berbahaya. Sangat berhati-hati kami berada di belakang para penunjuk jalan. Kami membeli sesuatu di salah satu toko dan kami berjalan lagi. Sekarang baru mulai: dua, tiga. Lima, enam orang memakai sorban dan jubah yang panjang dan berwarna-warni datang menawarkan barang-barang kepada kami secara memberondong: rokok, tembakau, kalung … dan lain-lain! Kami langsung menjawab: pergi, kami tak beli apa-apa! Orang-orang itu cukup mampu berbahasa Belanda untuk menawarkan barang-barang mereka, dan mengerti maksud kami. Orang-orang tersebut masih mengikuti ketika kami sampai pada sebuah restoran besar dengan lampu warna-warni. Seorang “ober” (sebutan pelayan restoran, sic.) menyosong kami dan berkata lantang: “Tuan-tuan, kemari!” Di seberang juga ada sebuah bar dengan orang-orang yang mengundang seperti ini. Kami memilih yang pertama dan duduk dengan nyaman di sebuah meja kecil di luar. Kami minta sebotol bir: Fl. 3.50! Luar biasa. Kami menolak tentu saja, dan menawar sampai 80 sen. Namun para penjual tadi datang lagi: tasbih, rokok, perangko, bunga dan penukar uang … seperti pengepungan saja layaknya. Kami bertahan dan meledek, kami menawar 5 sen kalau mereka meminta 2 gulden. Memang kami harus mendengarkan banyak hal, tapi lucu juga mendengarkan mereka mengucapkan bahasa Belanda. Kami memang harus waspada menjaga saku dan jam tangan kami. Penumpang-penumpang yang lain juga dikejar seperti kami. Mereka mengajukan harga yang tinggi, namun ditawar rendah. Mereka juga memberi nama seenaknya: Nyonya Konsul, Jendral, Kapten, dan kami disebut: Kardinal! Kalau kami menawar terlalu rendah, mereka berucap: kurang…! Kami dinasehati untuk tidak membeli perangko dan menukarkan uang, bisa-bisa ditukar dengan uang palsu. Sementara itu ada orang yang mengadakan sulap di tengah jalan. Tapi polisi sudah tahu taktik mereka. Romo Overste [Romo Superior] dan yang lain sementara itu juga sudah tiba.

            Menjelang pukul empat pagi kami semua bersama kembali ke kapal. Lagi-lagi harus membayar kepada polisi dan si Arab penunjuk jalan.

            Ketika sampai di dek hal-hal lucu seperti tadi belum selesai. Kapal itu penuh dengan orang-orang berkulit hitam. Untuk menjaga hal-hal tidak diinginkan kami mengunci semuanya. Ada tukang sulap dengan anak ayam dan gulden: luar biasa hebat. Sepanjang kapal ada armada perahu-perahu kecil dengan berbagai barang dagangan. Orang-orang itu terus menerus menawarkan dan akhirnya menjual banyak juga. Dengnan tali mereka mengerek dagangan dan dengan payung mereka menerima uang.

            Di bagian lain pemusik-pemusik dengan seruling dan alat musik citer memainkan lagu-lagu yang bagus dan juga “Wilhelmus” dan beberapa lagu Belanda. Di air sekelompok anak-anak berenang sambil berteriak: “Tuan, seketip Tuan, untuk Ali Baba!”. Melayanglah uang setali ke air dan mereka pun dengan cekatan menyelam ke dalam air, beberapa saat kemudian mereka muncul dengan uang logam di mulutnya. Kadang-kadang karena berebut, mereka lalu bertengkar dan saling menyemprot dengan air dari mulut mereka. Dan ada juga seorang perenang yang sudah agak besar bersedia meloncat dari dek kapal ke dalam air (kurang lebih sepuluhan meter) dengan imbalan 5 gulden. Di mau juga, sebenarnya jauh di bawah itu. Lucu menyaksikannya, namun berhasil dengan baik. Apakah dia mau juga berenang di bawah kapal dengan imbalan tertentu, tentu saja tak ada yang mau dan akhirnya dia menghilang. Masih banyak orang-orang yang berkeliaran di dek hingga akhirnya pada pukul setengah enam kami mulai berlayar menyusuri terusan Suez. Jalan penderitaan mulai.

            Romo Wolters benar-benar seorang pencerita yang ulung. Dari sedikit kisah mampir di pelabuhan Said (Mesir), kita dibawa kepada sebuah realitas yang sungguh hidup, realitas pelabuhan. Apa yang dimaksudkan dengan “jalan penderitaan mulai” di atas ialah badai laut yang menggoncang kapal disertai dengan penderitaan di atas kapal, mabuk dan ketakutan.

            Sampai malam kami tetap tinggal di dalam. Di kedua belah sisi hanya ada padang pasir dan beberapa deret pohon yang jarang sepanjang terusan itu, yang dilewati kereta api. Kami melewati danau-danau besar, yang penuh dengan perahu-perahu layar. Kami juga berpapasan dengan beberapa kapal besar antara lain penjelajah Jeanne d’Arc. Betapa panasnya! Dan itu baru permulaan. Terusan itu sendiri adalah karya yang indah: lebar, luas, lurus, namun perlu banyak perawatan. Banyangkan saja, kapal kami saja harus membayar Fl. 35.000 untuk sekali lewat. Menjelang malam kami akhirnya sampai di Suez, sekali lagi pemandangan yang mengasyikkan, namun kami terus berlayar.

Kemudian kami memasuki laut Merah! Saya masih merinding kalau mengingat. Tiga hari yang panjang kami berlayar dan rasanya tak ada akhir, sedangkan matahari bersinar tepat di atas membakar kami. Kami ingat akan Musa, Sinai, akan Pharao dan bala tentaranya; tetapi lebih-lebih ingat akan penderitaan yang kami tanggung. Pastor Linus sepanjang waktu berbicara tentang Job, tentang kehidupan yang manusiawi … Kami bertahan sekuat tenaga dan akhirnya kami sampai di Perim dan Teluk Aden. Orang menghibur kami bahwa Surabaya tak pernah sepanas ini.

Kami jatuh dari Charybdis ke Scylla. Di teluk Aden ada musim hujan. Berita-berita di radio memberitahukan tentang badai dan kami pun bersikap waspada. Pada malam hari ketika kami sedang makan, badai mengamuk. Waktu itu para penumpang berlarian ke geladak, ke kabin, mencari selamat di tempat tidur atau kursi tidur. Hari berikutnya lebih dari separuh ruang makan kosong … hanya Romo Prior (Romo de Backere) dan Pastor Sarneel yang tidak mabuk, yang lain … jatuh semua: Mabuk laut!

Siang hari menjadi berat dan malam tidak memberikan istirahat: tentang perjalanan santai jangan dibicarakan lagi. Untunglah badai mulai reda beberapa saat kemudian, sekarang malah ada angin sepoi-sepoi, kami tak merasa terganggu, malahan sebaliknya.

Apa yang telah kami keluhkan dan tertawakan, semuanya kelihatannya hilang lenyap kecuali semangat, yang selalu menyala, meskipun kadang-kadang pesimis juga. Hari telah menjadi agak sejuk dan bahkan ada hujan. Perut mulai normal kembali. Secara bertahap, semuanya menjadi pulih kembali. Padahal bagi yang sudah biasa, pelayaran ini sangat nyaman. Memang, bagi kami kesemuanya itu merupakan pengalaman baru. Namun jangan Anda salah tangkap. Bagi saya perjalanan ini merupakan piknik. Setiap hari maju 600 km, dan sekeliling hanya air dan sekali lagi air. Dan itu indah, karena merupakan hal yang baru bagi kami. Anda-anda yang akan menyusul kami kemudian, janganlah menjadi cemas.

            Sebuah kisah perjalanan laut yang menimbulkan kesan. Mengharukan. Mendebarkan. Tetapi, juga lucu-lucu. Mungkin harus dikatakan bahwa Romo Wolters termasuk salah seorang yang pintar bercerita dan pembaca dibuat enak mendengarnya. Ketika dia berkata, “bagi saya perjalanan ini merupakan piknik … indah meskipun di sekeliling hanya air dan sekali lagi air … Anda-anda yang akan menyusul … janganlah menjadi cemas” jelas hendak mengatakan maksud dari kisah perjalanan ini. Maksudnya ialah agar kisah ini memberi semangat misioner kepada para pelanjutnya. Yang akan menyusul memang banyak sekali. Sekitar tujuh puluhan atau lebih konfrater Belanda telah benar-benar mengikuti jejak para misionaris CM pertama ini. Mari kita ikuti perjalanan dan petualangan mereka di Kolombo dan Sabang.

            Tanggal 23 Juni pagi hari kami memasuki pelabuhan Kolombo [mereka berangkat dari Genoa 6 Juni]. Laut agak berombak waktu itu, namun suatu armada perahu-perahu kecil datang mengelilingi kapal kami. Indah untuk dilihat bagaimana perahu-perahu itu berdansa terapung, dikendalikan oleh awak yang coklat kulitnya dan setengah telanjang. Sebuah perahu motor membawa kami ke darat.

Pagi ini kami cepat-cepat menukarkan uang, lalu ke kota bersama Romo Paskalis.[ii] Semuanya kelihatan baru bagi kami, penemuan-penemuan yang menyenangkan. Pakaian mereka sangat sederhana dan berwarna-warni, tetapi selalu rapih dan tak pernah mengejutkan. Anak-anak membarengi kami cukup jauh dengan permintaan-permintaan yang sulit dimengerti sambil mula-mula menepuk dahi dan kemudian perut: “Tuan, sen!” Salah satu dari mereka menyanyikan lagu: “It is a long way to go”. Dan kami menemukan sebuah bangunan, rupanya Gereja Katolik. Tapi ternyata sebuah losmen!

Kemudian kami menyewa sebuah dokar, saisnya berkulit coklat, mulutnya merah karena mengunyah sirih, tak mengerti bahasa Inggris atau Melayu. Saya memperlihatkan lima kali lima jari saya, kemudian dia mengangguk dan saya naik ke dokarnya. Terlihat sebuah gedung dengan salib di atasnya: St. Peter’s House, sebuah rumah sakit yang besar.

Romo Paskalis dan saya sepakat untuk mampir sejenak. Di sana sudah duduk lima yang lain di sebuah beranda yang nyaman. Seorang Suster pribumi yang rapih dan ramah menghindangkan kopi dan anggur. Kami membeli lilin dan melihat-lihat kapel di mana Sakramen Mahakudus sedang ditahtakan dan dari sana bersama-sama kami pergi ke biara para Romo Oblaten, yang juga merupakan rumah tinggal Uskup. Juga di sana kami diterima dengan sangat ramah. Salah satu konfrater kami dari Cina mampir di sana seminggu yang lalu.

Namun perlahan-lahan waktunya telah habis dan kami naik tram kembali ke pelabuhan, melalui daerah-daerah yang khas. Kami sangat senang dengan bepergian ini dan dengan kotanya. Jumlah orang Katolik di situ tidak kurang dari 50.000 jiwa dan ada banyak gereja. Ceylon (Sri Lanka), pulau yang indah ini, memberikan kesan yang sangat baik.

Pada jam setengah dua kami melaju lagi ke laut bebas menuju ke Sabang. Sementara Minggu tanggal 24 Juni adalah pesta St. Yohanes.[iii] Dengan sendirinya kami rayakan dengan meriah. Kami gunakan waktu dengan ngobrol lama, sedangkan di dek lain ada dansa.

Senin tanggal 25 Juni pukul delapan pagi kami sampai di Sabang. Inilah Indonesia, tanah yang dijanjikan! Kesan pertama sungguh sangat indah. Sabang terletak bagus di mulut teluk, dikelilingi bukit-bukit yang tinggi dan hijau. Kami sempatkan mendaki salah satu bukit. Pelabuhan Sabang cukup modern perahu dapat merapat. Perjalanan penyelidikan kami segera mulai. Kali ini kami lakukan untuk mengenali lebih jauh alam Indonesia dari dekat … Pada siang hari kami mengadakan perjalanan yang kedua ke sekitar Sabang yang makmur dan indah itu.

            Pada jam tujuh kami berangkat lagi. Di depan pelabuhan Deli kami berhenti tiga jam tetapi kami tidak boleh turun ke darat. Besok pagi kami akan berada di Singapore. Kami semua menunggu Romo Klamer CM dan pasti akan menjadi sebuah hari yang menyenangkan …

Waktu mendekati Singapura kami melihat dengan teropong Romo Klamer sudah berada di dermaga. Sungguh suatu pertemuan yang menggembirakan. Dengan demikian perjalanan kami merupakan perjalanan yang paling baik; di Nederland kami pasti didoakan secara khusus. Konfrater “Cina” kami sudah menyediakan sebuah mobil di dermaga dan dari kapal kami langsung melangkah ke kendaraannya. Suatu perjalanan yang indah. Mula-mula kami sampai di rumah kelompok “Misi untuk Bangsa-Bangsa” dari Paris, tempat Romo Klamer menginap. Mula-mula kami minum minuman segar di beranda. Setelah makan malam, kami masih melanjutkan omong-omong yang mengasyikkan; kemudian kami kembali lagi ke kapal Johan de Witt.

Romo Klamer CM adalah konfrater yang konon sudah lima belas tahun berkarya di Cina. Dia dipanggil bergabung dengan empat konfrater Belanda pertama untuk merintis misi di Indonesia. Mengapa diminta? Sangat mungkin, karena – menyimak komposisi umat Katolik yang ada pada waktu itu di wilayah Surabaya, di mana jumlah umat Katolik Cina menduduki urutan kedua terbanyak setelah umat Katolik Belanda – Romo Klamer diminta membantu untuk melayani umat Cina yang Katolik. Situasi Surabaya pada waktu itu sangat beragam. Orang Jawa menggunakan bahasa Jawa. Umat Katolik Jawa pada waktu itu jumlahnya hanya 40 orang. Orang-orang Cina bercakap-cakap dalam bahasa Cina. Pada waktu itu jumlah orang Cina di wilayah yang akan menjadi wilayah misi para misionaris kita mencapai enam puluhan ribu. Orang Belanda juga berbicara dalam bahasa mereka sendiri. Bahasa Indonesia belum bisa dibayangkan. Kedatangan Romo Klamer yang sudah berpengalaman misi di Cina akan memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi pelayanan umat Katolik Cina di wilayah Surabaya dan sekitarnya.

 

Sampai di Batavia

Hari berikutnya Pastor Klamer mulai menempati tempatnya di kapal, yang telah diatur dan dipersiapkan dengan sempurna. Kapal mulai melaut lagi menjelang pukul empat (sore) menuju Batavia. Kami memasuki pelabuhan Tanjung Priok hari Sabtu pagi tanggal 30 Juni. Seorang pater Jesuit sudah menunggu kami di dermaga. Setelah pemeriksaan melalui bea cukai, kami dibawanya dengan dua mobil menuju Batavia.

            Penyambutan sangat ramah dilakukan oleh Pastor van Hoof dan para Romo yang lain. Setelah berkunjung ke Katedral sebentar, sebagai ungkapan terima kasih atas lancarnya perjalanan dan memohon berkat Allah bagi karya kami di Jawa, enam di antara kami ditempatkan di pastoran Weltevreden dan dua paling muda, Pastor Linus dan Pastor Heuvelmans, di Messter Cornelis dengan Pastor Mathijssen …

 


[i] Kutipan surat ini dari SV-MISSIE, September dan November 1923. Terjemahan bahasa Indonesia dikutip dari buku Menapak Jejak Missionaris Lazaris, jilid I (John Tondowidjojo CM). Beberapa kalimat terjemahan diperbaiki seperlunya. Kata-kata “dari Paris” merupakan tambahan dari penerjemah dalam buku Menapak Jejak Misionaris Lazaris, jilid I. Tidak ada di dalam teks surat yang dimuat di SV-MISSIE, September 1923. Jika diperhatikan secara teliti, kalau para misionaris ini sempat mampir di Roma, maka keberangkatan tanggal 5 Juni 1923 ke Genoa itu dari Roma, bukan dari Paris. Dan, apalagi mereka berkata kalau mampirnya di Roma itu hanya sebentar. Itu mengandaikan mereka saat itu dalam perjalanan hendak berangkat (ke Indonesia) dari pelabuhan Genoa, tetapi sebelumnya sempat ke Roma. Hampir dapat dipastikan, setelah dari Roma, mereka tidak kembali ke Paris. Tambahan lagi, bila mereka mengambil kereta malam, dan jam tujuh keesokan harinya sudah sampai di tujuan (Genoa, maksudnya), itu lebih pas dari rute Roma–Genoa, bukan Paris–Genoa. Yang pasti ialah bahwa mereka tanggal 6 juni 1923 sudah melakukan perjalanan dengan kapal Johan de Witt menuju Indonesia.

[ii] Kita tidak tahu pasti siapa Romo Paskalis. Tetapi, jika dalam awal perjalanan, Romo Wolters menyebut mereka bersama-sama dengan Romo-Romo Karmelit yang akan bertugas di wilayah Malang dan sekitarnya, mungkin (tetapi sangat belum pasti) Romo Paskalis itu Romo Karmelit. Atau, pokoknya, salah seorang Romo yang pada waktu itu juga sedang menempuh perjalanan yang sama menuju Indonesia.

[iii] Pesta St. Yohanes berarti pesta dari nama pelindung Romo Jan (Yohanes) Wolters sendiri. Tentu saja, bagi penulis kisah ini, hari itu adalah hari istimewa.

 

Kunjungan ke Desa

Kunjungan ke Desa

Bukit-bukit menggelombang dan sungai-sungai berkelok-kelok menuju laut. Pegunungan selatan yang indah membentang luas, sunyi, gersang dan miskin. Di balik hutan lebat, yang menutupi pantai selatan, kami mendengar deburan ombak menggulung, pecah menghantam karang pantai. Juga di daerah itu Misi memiliki beberapa sekolah kecil. Di antara sedikit penduduk pegunungan yang sederhana itu, kabar gembira Injil mendapat sambutan. Ketika kami beberapa tahun lalu menjelajahi daerah itu, bahkan nama Katolik atau Romo belum dikenal. Sekarang, pada kunjungan kami terakhir, dipersembahkan Misa agung dan sejumlah umat menyambut, sedangkan para katekumen dan yang ingin tahu pun datang melihat … Oh tanah gersang selatan ini rupanya cocok untuk biji sesawi Injil. Rumah bambu yang luas itu dengan segera penuh. Mereka duduk di tikar. Di sisi yang satu, duduk bapak-bapak dan di sisi yang lain ibu-ibu dan anak-anak. Setelah saling menyapa, mula-mula dihidangkan kopi yang hitam pekat dan lezat manis. Kemudian menyusul pelajaran. Satu setengah jam mereka mendengarkan misisonaris dengan penuh perhatian, yang dengan contoh-contoh dari sekeliling lingkungan mereka berusaha menerangkan kebenaran-kebenaran yang luhur dari “agama baru” itu.

 

Perjalanan pulang ke tempat tinggal kami sementara di Sumberboto tidaklah mudah. Hari sudah gelap. Hujan telah menjadikan semuanya berlumpur dan kerbau-kerbau dengan kakinya yang besar dan berat itu telah membuat kubangan-kubangan di jalan. Sekali-kali kami merasakan cipratan air kotor ke arah kami. Lumayan. Kalau kami [Rm van Megen dan Rm Wolters] tiba di rumah, kami akan memutuskan siapa di antara kami berdua nampak paling tampan, haaha! Tuhan memiliki misionaris bermacam-macam jenis: “Misionaris-aspal” di kota-kota, “Misionaris-lumpur” di desa-desa; namun kami semua harus bekerja keras.

 

Pagi-pagi umat sudah hadir. Banyak pria, wanita dan anak-anak yang datang dari jauh untuk menghadiri Misa dan menerima Sakramen. Penduduk sekitar membantu kami menghiasi serambi dengan daun-daun dan bunga. Koper Misi kami jadikan altar. Di lantai tanah digelar tikar dan umat dapat duduk bersila. Ruang kecil yang kemarin masih sebagai dapur menjadi kamar pengakuan. Akhirnya Romo Bastiaensen dari Blitar datang untuk mengadakan Misa Agung. Kehormatan semacam ini belum pernah terjadi di daerah selatan. Betapa khusuk suasana umat dan katekumen dan betapa besar besar perhatian orang di luar halaman. Khotbah Romo van Megen dalam bahasa Jawa menjelaskan kebahagiaan, hak, namun juga kewajiban dan tanggungjawab masyarakat Katolik yang muda dan tentang para kepala petinggi Katolik. Suara tersebut terdengar sampai pada kerumunan di luar, mungkin sebagai awal rahmat pertobatan. Setelah doa penutup syukur, kepada mereka kami sajikan secangkir kopi yang nyaman dan kue manis dari tepung beras. – Tulis Romo Jan Wolters (1934)

 

***

 

Apakah kita besok akan mengunjungi sekolah-sekolah desa kita di daerah selatan? Tanya Romo van Megen … Esoknya kami jalan. Jalan memang hampir tak dapat dilewati. Selain tanah liat yang kuning kapur, masih ditambah jalan membelok menanjak yang dilewati sapi-sapi yang lari ke sana ke mari … Romo Wolters bersepeda dengan giat bersama dengan Rom van Megen ke Kali Grenjeng, Sumberboto. Saya memperoleh banyak kesempatan membayangkan kelelahan yang mereka alami setelah perjalanan-perjalanan semacam itu … Setelah Misa, mulailah dengan pelajaran agama. Romo van Megen melakukannya dengan serius. Selama tiga perempat jam ia mengajar dalam bahasa Jawa sangat lancar. Pelajaran agama sudah selesai, sekarang pembagian gambar-gambar, pada setiap gambar ada salah satu cerita. Santo Isidorus, pelindung para petani menjadi pusat perhatian dan diterima dengan “inggih-inggih” yang lantang dalam kelompok. – Tulis Rm Bruno CM ketika ikut Rm van Megen ke desa (1932)

 

***

Sore hari dan malamnya kami segera melakukan kunjungan. Kunjungan kemana? Ke pemimpin masyarakat, ke Asisten Residen, ke kepala-kepala sekolah atau guru-guru sambil berpesan agar para murid datang ke Katekismus. Bagaimana itu semua dilakukan? Dengan naik kereta api, atau dokar atau kuda, atau numpang mobil umat (Belanda) atau kunjungan dengan sepeda atau jalan kaki. Esok hari-nya setelah Misa kudus di gereja Mojokerto yang kecil dan mungil, pembagian tugas dibicarakan. Romo Wolters mengunjungi pabrik-pabrik gula; saya memberikan pelajaran Katekismus dan sore harinya kunjungan keluarga lagi. Kami dapat mengunjungi 80 keluarga! Kunjungan umat lebih berguna [lebih efektif] daripada kotbah di gereja. Tengah malam kami menyudahi kunjungan, dan kembali ke pondok, mengaso dan membuat persiapan untuk esok harinya dan dengan demikian tugas sehari-harinya selesai. – Cerita Rm Herman Kock CM saat tugas pertama di Mojokerto bersama Rm Wolters (1924)

 

 

Misionaris di-internir

Misionaris di-internir

 

SAAT MISIONARIS DI-INTERNIR JEPANG

 

Di awal bulan September 1943 para misionaris CM diculik dari tempat tugas masing-masing, Surabaya, Blitar, Kediri, Mojokerto, Madiun, Cepu, dan lain-lain.  Mereka diciduk tentara Kempeitai (polisi tentara Jepang) dengan truk. Yang tugas di Surabaya dibawa ke penjara Bubutan sampai lima bulan. Awal tahun Januari 1944, semua misionaris Belanda dibawa dengan kereta api yang buruk dan pelan jalannya ke Cimahi, Bandung. Mereka dijebloskan ke Internir (kamp konsentrasi). Tinggal di barak-barak jelek. Makanan buruk, mengalami rupa-rupa penganiayaan. Romo van Goethem CM dihajar Kempeitai hingga tidak bisa jalan, karena saat pasturan Madiun digeledah, dijumpai bendera Jepang di gudang (harusnya di ruang tamu!). Saat pembebasan, Romo van Goethem tinggal kulit dan tulang saja. Romo Gerard Boonekamp CM  dihukum berat secara fisik dan mengalami penganiayaan yang bertubi-tubi, karena dituduh menyembunyikan tentara Australia yang terluka, dan diadili serta dijatuhi hukuman mati. Karena pembelaan dan intervensi Mgr. Willekens, hukuman diubah 15 tahun. Pembelaannya: Romo Gerard CM melakukan pertolongan kemanusiaan, tentara Australia itu terluka (butuh perawatan). Romo van Megen CM hampir mati, karena kekurangan gizi, tetapi “diselamatkan” tikus. Teman-teman misio-naris mencarikan tikus di barak-barak, dan mema-saknya untuk tambahan gizi. Mgr. Verhoeks CM menderita karena makanan buruk dan sejak itu ia mengidap asma berat sampai akhir hidupnya (1952). Romo Schilder CM menderita sekali, hingga saat berobat ke Belanda tidak lagi kembali ke Indonesia. Romo Sjef Mensvoort CM, meski tetap semangat, secara fisik lemah setelah interniran. Romo Gerard van Ravesteijn CM, pembimbing rohani Angkatan Laut, gugur di laut Jawa, karena kapalnya kena torpedo Jepang.  Romo Jacob Bruno CM, paman Mgr Klooster CM, wafat di Makasar.

 

 

 

 

SAAT KARYA MISI HANCUR

 

 

Ketika para misionaris CM semuanya (26) diinternir Jepang. Banyak stasi di wilayah Blitar, Kediri, dan Madiun terlantar. Cukup banyak komunitas umat di desa-desa wilayah Blitar yang tidak bisa dipulihkan lagi iman Katoliknya. Setelah perang usai, para misionaris tidak memiliki kekuatan fisik yang memadai untuk mengunjungi stasi-stasi dan meng-hidupkan iman umat. Mereka harus memulihkan kesehatan, dan pulang ke Belanda. Sebagian tidak bisa kembali ke Indonesia, tetapi yang kembali bekerja di Vikariat Surabaya tidak cukup kuat lagi ke stasi-stasi seperti sediakala sebelum perang.

 

Stasi-stasi yang terbengkelai selama pendudukan Jepang hampir semua, kecuali Slorok (Blitar) yang bertahan dan hidup (laporan Dr. Jan Haest CM dalam Tien Jaar Missie 1945-1955). Sementara yang terbengkalai di Blitar dan Kediri: Gabroe (Wlingi), Kaligrenjeng, Gunung Gedhe, Sumberboto, Tam-bak-Pasiraman, Gayam, Pikatan, Gemblongan, Petungombo, Gandusari, Rotorejo, Bambingan, Ngeni (baru pulih kembali tahun 1965-an) dan masih banyak lagi.

 

“Karya misi yang telah bertahun-tahun kami bangun, kini hancur…” (Ratap Romo Anton Bastiaensen CM, salah satu pendiri banyak stasi di Blitar)

 

 Rm. Armada Riyanto CM.


 

 

Periode Gelap Misi

Periode Gelap Misi

 

“PERIODE GELAP/DERITA” MISI (1942-1947)

 

SAAT MISIONARIS DI-INTERNIR JEPANG & HANCURNYA GEREJA KEPANJEN DAN KARYA MISI DI DESA-DESA

+

Surat Mgr. Verhoeks CM, Vikaris Surabaya, tanggal 8 Maret 1947 kepada Paus Pius XII di Roma, mengabarkan keadaan Vikariat Surabaya dan para Romo-nya pada waktu di Interniran:

 

“Bapa Suci …  Selama bulan-bulan pertama pendudukan Jepang Gereja umumnya tidak mendapat gangguan [Jepang masuk Surabaya sekitar akhir tahun 1941]. Tetapi sekolah-sekolah terpaksa segera tutup [sebab diambil dan diduduki]. Tanggal 4 September 1943 saya bersama-sama dengan semua imam dan rohaniwati Belanda lainnya ditangkap dan ditahan di Surabaya sampai lima bulan. Kami mengalami banyak penderitaan, tetapi masih bebas dapat merayakan Ekaristi.

Akhir Januari tahun 1944 kami semua dipindahkan ke Bandung [Interniran Cimahi]. Hampir semua misionaris dari seluruh Jawa dikumpulkan di Bandung dan ditahan di berbagai rumah penjara. Pada permulaannya kita masih diperbolehkan dan bisa mengadakan kebaktian agama, tetapi lama-kelamaan kebebasan itu dihapus sama sekali, malah dilarang. Namun imam-imam masih dapat bergantian mempersembahkan Misa [secara sembunyi-sembunyi], diikuti sesama tahanan, baik Katolik maupun tidak Katolik. banyak orang bertobat kembali karena mendengarkan khotbah. Saya sendiri beberapa kali menerimakan sakramen pengampunan kepada orang-orang yang baru bertobat. Tak seorang imam kita meninggal, sekalipun banyak yang menderita sakit berat di Interniran … [Ada dua gugur, Rm van Ravesteijn CM di laut Jawa dan Rm Bruno CM di Makasar]

Ketika Jepang sudah menyerah, [awal September 1945] saya pulang ke Surabaya. Dan akhir September [1945] hampir semua misionaris kami sudah dibebaskan kembali. Masing-masing kembali ke tempat pekerjaannya dahulu sebelum perang. Mereka mulai bekerja lagi meskipun banyak di antara mereka itu sangat membutuhkan istirahat, karena sangat lemah dan letih.

Tetapi tak lama kemudian di antara kami banyak yang masuk tahanan lagi, sekarang di penjara barisan tentara rakyat revolusioner, berhubung dengan pecahnya revolusi: 4 misionaris di penjara Surabaya, 4 di Madiun, 3 di Blitar, 3 di Kediri dan 1 di Mojokerto. Di antara mereka itu – yang disebutkan pertama – hanya ditahan selama 1 bulan, sedang yang lainnya sampai 1 tahun baru dibebaskan kembali. Dua orang misionaris dengan suka rela tetap tinggal di Madiun dan seorang lagi di Blitar. Gereja besar yang dibangun dalam tahun 1900, Gereja Kelahiran Santa Maria, habis terbakar pada tanggal 12 November 1945. Bangunan-bangunan misi lainnya sebagian besar rusak. Ada yang rusak parah, ada yang rusak kecil. …”.

 

+

Surat Romo Henri van Megen CM, Superior Misi CM kepada Jenderal CM di Paris, Prancis, yang dimuat di Annales tahun 1952:

 

[Sesudah tahun 1942], apakah misi kami lenyap? Apa yang tersisa di tahun-tahun invasi Jepang, saat para misionaris dijebloskan ke kamp interniran yang mengerikan [horribles] karena yang ada hanyalah kelaparan, penyakit, dan segala derita? Ketika itu, dua imam Jawa dari Semarang datang membantu melayani beberapa komunitas dan umat yang tersisa [di Vikariat Surabaya]. Semua sekolah kami [yang kami dirikan], lebih dari seratus sekolah yang menampung kurang lebih sembilan ribu murid, semuanya hancur, hanya empat atau lima sekolah yang bisa segera dipulihkan.

Selama perang empat tahun ini [1941-1945] kehancuran yang terjadi sungguh luar biasa. Para konfrater terancam pembunuhan, sementara yang lain dijebloskan ke penjara lebih dari satu tahun. Pada tahun 1946, kota Surabaya yang sebelumnya merupakan kota yang sangat padat, menjadi seperti padang gurun. Ribuan penduduk lari atau mengungsi dari kota Surabaya. Orang-orang Belanda yang telah bebas dari internir mulai kembali ke Surabaya dan mengais apa yang yang tersisa. Dan, dari segala kehancuran yang ada, gereja terindah yang ada di Surabaya telah dibakar (November 1945) dan gereja di Jombang. Dan banyak rumah religius yang telah diduduki juga mengalami kerusakan... Banyak misi kami [stasi-stasi di Blitar, Kediri, Madiun], banyak gereja dan kapel, dan banyak sekolah hancur.

 

+

Romo Anto Bastiaensen CM, pendiri banyak stasi di Blitar, “menangis” di makam Mgr. De Backere CM, Prefek Surabaya:

 

Monseigneur, saya berdoa, menangis. Kami para misionaris CM di Jawa sedang dirundung kesusahan yang amat dalam, kami terpukul oleh kehancuran misi yang telah engkau rintis dengan susah payah. Kami hampir putus asa. Engkau yang begitu mencintai misi di Jawa, di sana Engkau telah berdoa, menderita, berjuang, bekerja lebih berat dari pada kami saat ini. Jadilah  Engkau pengantara kami pada Tuhan, agar kami tetap  berada  di jalan yang telah engkau tempuh, tanpa gentar, tanpa kenal lelah, sekali lagi. MISSIEFRONT, Februari 1948, 2-6.

 

+

DAMNA EX BELLO ORTA – KEHANCURAN KARENA PERANG

Laporan Romo Joseph Lansu CM, Provinsial Superior CM Belanda, kepada Jenderal CM di Paris, 20 Juni 1947.

Di Vikariat Surabaya, Jawa: Seorang imam wafat dengan kapalnya di Laut, dihantam torpedo Jepang. Hilang: semua (26 misionaris CM), mereka dibawa ke kamp internir Cimahi bersama seluruh warga Belanda. Total kerusakan di Vikariat dalam estimasi US$: harta immobiliaris: lebih kurang 300.000 US$; mobiliaris: lebih kurang 260.000 US$; Total: 560.000 US$.

===================================================================

[Rm Armada Riyanto CM]

First Baptism Blitar

First Baptism Blitar

Permandian Pertama di Blitar

 

Oleh Anton Bastiaensen CM (1929)

Dari buku Kreus en Kris (1934)

 

Telah empat tahun Blitar mempunyai HIS (Sekolah Dasar Belanda untuk pribumi), sejak dua tahun telah ada asrama untuk anak-anak Jawa masuk sekolah dan sejak dua tahun dua seminari menetap di sana. Disarankan untuk sangat hati-hati dalam mendapatkan kepercayaan dari para penduduk pribumi, ada kurang lebih empat puluh katekumen, yang datang dengan setia ke gereja dan pelajaran agama,…. dan akhirnya pada Sabtu Paskah terlaksanalah permandian pertama di Blitar.

      Seperti halnya seorang Uskup dalam upacara tahbisan imam, melihat di hadapannya calon-calon terpilih, penuh semanat yang berkobar-kobar, dengan gembira mengatakan kata-kata “Deo Gratias”, demikian juga bisik misionaris itu pada permandian para katekumennya yang pertama dengan penuh rasa syukur “Deo Gratias”. Terima kasih Tuhan, karena ini adalah karyaMu! Sebetulnya ada lima belas calon permandian tetapi seleksi yang hati-hati harus diterapkan, dituntut jaminan khusus demi kehidupan Katolik selanjutnya. Upacara permandian dilaksanakan pada Sabtu Paskah, bagi kami suatu “Alleluia” penuh kegembiraan. Beberapa orang Katolik Eropa dan donatur misi hadir. Juga hadir beberapa keluarga calon baptis dan tentu saja semua umat Katolik bangsa Jawa. Kita mulai dengan “Veni Creator” dalam bahasa Jawa, setelah itu sedikit kotbah di mana sekali lagi ditegaskan bahwa sebaiknya mereka pergi meninggalkan tempat sebelum permandian, bila mereka tidak memutuskan dengan tegas untuk hidup secara Katolik yang baik. Kata orang, Orang Jawa tidak memperlihatkan perasaannya tetapi saya menyaksikan sendiri bahwa air mata ke luar dan saya ikut terharu.

      Upacara berlanjut hampir dua jam, karena upacara harus diulang bagi masing-masing tersendiri. Sungguh mengesankan terutama pengakuan iman bersama-sama, “Bapa Kami”, doa tobat, langsung sebelum permandiannya sendiri. Akhirnya mengalirlah air yang menyucikan, dan umat Kristen baru ini menyanyikan pujian syukur penuh gembira menjadi “Putra Allah dan putra Gereja”. Berikut ini riwayat hidup dari empat diantaranya para permandian pertama.

 

1.    Martha M.

      M adalah putra seorang Lurah (kepala desa pribumi). Ayahnya hilang dengan cara yang penuh rahasia. Tak lama kemudian ibunya kawinlagi dengan Lurah Ps suatu desa yang makmur di lereng gunung Kelud. Karena penampilannya yang santun, dia menjadi tokoh penting; demikian juga putrinya. Pantaslah bahwa segera muncul calon suami bagi anak yang baru berusia 9 tahun itu. Seorang anak muda, juru tulis dari pekebunan karet dan kopi di wilayah itu, dan cocok denga selera orang tua. Tetapi sesuai peraturan agama Islam, umur pihak wanita minimal 12 tahun. Jalan ke luarnya; pihak lurah mencari dua orang yang sanggup bersumpah di muka penghulu, tentu saja dengan biaya yang lumayan, bahwa anak it sudah berusia 12 tahun. Penghulu mengadakan pemeriksaan tersendiri yang diterima saja oleh anak itu, ternyata makin lebih yakin ini penipuan, tetapi, pengaruh wibawa sang ayah membungkam segalanya. Ijin diberikan. Pada hari perkawinan anak itu holang, para wanita yang harus mempersiapkan pakaiannya…. akhirnya dapat ditemukan sembunyi karena takut di atas pohon. Ancaman dan rayuan tidak berhasil…. Akhirnya dijanjikan kepadanya kambing kecil yang ditunjukan kepadanya dan menurutlah dia. Segera hias pengantin disiapkan, si kecil melawan mati-matian, akhirnya ibu menjanjikan bermacam-macam perhiasan kalau dia mau tunduk mengikuti semua ketentuan yang ada. Setiap pemasangan perlengkapan pengantin selalu dilawannya, tetapi akhirnya siap juga, setelah lewat lima jam masa hias pengantin. Seluruh upacara perkawinan berlangsung seperti sebuah mimpi yang lewat begitu saja, hanya pada waktu upacara melempar daunsirih, tersenyumlah si pengantin kecil karena merasa sebagai suatu hal yang menggelikan.

      Tentu saja perkawinan ini merupakan suatu kegagalan, dan pada umur 18 tahun di telah diceraikan oleh suaminya yang ketiga, dan dia sekarang bekerja di perkebunan P. Pada suatu hari ia bertemu di perkebunan dengan tuan administratur bersama seorang tamu (yang ternyata seorang imam dari Surabaya yangdemi kesehatannya istirahat di wilayah pegunungan). Orang asing itu tersenyum kepadanya dan memberikan payung. Sedangkan tuan administratur mengatakan untuk membawanya ke “rumah besar” dan menuggu mereka di sana.

      Macam-macam pikiran berkecamuk di benaknya sambil menunggu di rumah administratur. Apakah pula yang akan dituntun daripadanya? Jalan ke luar akan segera datang, tamu itu mendapatkan sesuatu pekerjaan baru bagi anak perempuan itu, sebagai “babu” di asrama misi yang baru dibangun di Blitar. Dia pergi ke sana, tidak terlalu mengharapkan yang muluk-muluk, tetapi dalam kesederhanaan itu ia justru bertemu dengan Jesus. Rahmat Tuhan berkarya dalam jiwanya, meskipun buta huruf, dengan setia dia belajar berdoa serta katekismus. Dalam kesederhanaanya “Martha” dalam permandiannya “alangkah baiknya Jesus” kata Martha “karena dia memberikan saya berjalan di kebun kopi, dan saya berpikir tentang hal-hal yang jelek saat itu, tetapi, justru pada saat itu Jesus memanggil saya”.

     

2.    Robertus S

      S. kira-kira berumur 18 tahun ketika datang di sekolah misi. Dia memperkenalkan diri sebagai Raden Mas S. (jadi seorang bangsawan). Dia sangat rajin, tenang di dalam kelas dan penuh perhatian. Di sana segera dia mendengar tentang Yesus, lalu menjumpai Pastor untuk itu pelajaran agama dan bersamanya datang pula W.M. dan J. Yang akhirnya membentuk inti dari kelompok anak-anak Katolik disekolah kita.

      Menjelang Paskah 1929, beberapa katekumen Blaitar akan dipermandikan. Agaknya takut-takut S. Minta kepada orang tuanya untuk menjadi Kristen. “Kristen, kata ayah gemetar karena marah, lebih baik aku melihatmu mati! Tak pernah, selama saya masih hidup, kamu menjadi Kristen.” Ibu menangis menyaksikan kejelekan anaknya. S. Tunduk kepala, dengan tenang berkata: “Saya tidak akan melawanmu, ayah!” “Saya minta maaf.” Dia sudah pernah menyinggung masalah itu lagi, tetapi masih tetap mengikuti pelajaran agama. Beberapa hari kemudian Paskah, ayahnya sakit,  ternyata TBC yang sudah parah. Masuk rumah sakit, setiap sore bersama ibunya, lewat pastoran pergi untuk menjaga si ayah yang sakit. Pastor juga sering mengunjungi si sakit, ini merupakan tugas tetap imam di sini. Perkenalan dengan sang ayah ternyata berjalan denga baik, karena setelah itu ternyata anak diijinkan untuk dipermandikan. Robertus (nama permandiannya) makin menunjukan cinta dan baktinya kepada sang ayah yang sakit. Cinta mengalahkan segalanya. Beberapa jam sebelum kematiannya, Robertus memanggil Pastor. “Romo, ayahingin juga dibaptis, datanglah cepat!” Segera saya datang sambil membawa koper permandian saya; saya berikan sedikit pelayanan; si sakit senang sekali mendengar pesan-pesan Yesus: si ibu juga hadir, ketika air permandian mengalir di dahi si sakit yang menjelang ajal, tak seorang yang hadir mampu menahan air mata; beberapa jam kemudian meninggallah Antonius M. Penuh keasrahan kepada Kehendak Suci Allah. Biarlah sesudah itu penghulu mengambil tempat saya di dekat jenasah seorang umat paroki kita dimakamkan secara Islam: Jiwanya sudah terselamatkan, dan bertobatlah hampir seluruh keluarga.

     

3.    Simplesius J.

      Seorang anak desa asli, ibunya tinggal jauh dari Blitar, setelah cerai dengan ayahnya kawin lagi dengan seorang Lurah: ia tinggal bersama ayah tiri, karena ayahnya sendiri pergi ke Banyuwangi, dan tak terdengar lagi kabar beritanya. Karena terdorong oleh teman-teman dan keluarganya, pergi juga ke HIS kami. Pada sore hari setelah sekolah, pelajaran agama diberikan di asrama. Di suatu sore karena enggan melihat tari-tarian, ia pergi ke sekolah dan mengikuti pelajran agama. Berkenalan dengan Pastor, merasa bahwa iman Katolik dapat memberikan segalanya, belajar dengan rajin katekismus dan dengan sungguh-sungguh ingin dipermandikan. Pada saat yang kristis di mana dia harus minta ijin ibunya untuk menjadi Kristen, meskipun Pastor telah membicarakan terlebih dahulu dan mendapat ijin, mungkin karena sulit menolak permintaan orang Barat atau tidak memahami permintaa itu sepenuhnya, ternyata ditanggapi dengan santai smbil mencabuti rambut kepalanya: “Alangkah celakanya saya, sudah ditinggal suami, sekarang satu-satunya anak mau meninggalkan saya.” “Ibu,” katanya, “begitu lama sudah kutunda minta ijin itu kepadamu; besok anak-anak yang lain akan diprmandikan, ibu, biarkanlah aku supaya ikut berbahagia.” Si ibu menangis dan berguling-guling di tanah dan minta kepada anaknya untuk tidak menyakiti hatinya. Anaknya hanya diam saja dan berbaring di balai-balai. Akhirnya si ibu menjadi reda, semua istirahat di tempat yang redup di bawah terang dan nyala lampu minyak yang kecil. Dia melihat ibu itu beridiri dan mengambil keris mau bunuh diri. Sang anak masih dapat dengan sigap menghalanginya. “Janji kepadaku, bahwa kamu besok kamu tidak ke luar rumah.” “Ya saya berjanji sebelum jam tujuh saya tidak meninggalkan rumah.” Ibu itu mereasa tuntutannya menang. Sampai setengah delapan ditahannya anaknya di rumah. Pada jam delapan pagi, upacara pembaptisan dimulai. Para calon duduk di tempat masing-masing. Satu tempat tetap kosong. Sesudah kotbah barulah ia datang dengan napas terengah-engah mengambil tempat di deretan terakhir anak 18 tahun itu menjawab dengan jelas dan tegas “saya menyangkal setan, saya ingin dipermandikan.” Sampai sekarang tetap setia dan tetap menjadi pendamping ibunya yang tetap Islam. Simplicius, yang sederhana itu, nama permandiannya – satusatunya petani Katolik dari desanya.

 

4.    Aloysius T.

      Seorang anak laki-laki kecil, kurus, datang dari Wlingi (kurang lebih 20 km. Dari Blitar) ke sekolah kami. Kelihatannya agak penakut tetapi pandangan tajamnya mengamati segala di sekitarnya. Dia memperhatikan ibu guru yang membuat tanda salib pada awal pelajaran dan teman di sampingnya, B (yang juga Katolik) lalu keduanya sama-sama mebuat tanda salib. Sikap pendiamnya ternyata didampingi pikiran-pikiran yang memenuhi otaknya dan tercetus dalam pertanyaan-pertanyaan yang khas darinya: “Mengapa Allah menciptakan nyamuk dan lalt?” “Kan tidak ada gunanya!” Atau, “mengapa orang-orang yang sangat dibutuhkan meninggal?” Amat banyak pertanyaan diajukan, dan wajah kanak-kanaknya nampak puaskalau pertanyaannya terjawab dengan baik. Tak lama kemudian ia mulai mengikuti pelajaran agama. Biasanya anak laki-laki Jawa bebas pergi ke manasaja dan jam berapa pulang. Kemudian T. Tinggal di rumah sorang guru Katolik, dan ia pun ingin menjadi Katolik. Ayahnya seorang pedagang sayur yang sukses, merasa keberatan kalau anak laki-laki sau-satunya menjadi Kristen. Tetapi si anak mendesak terus, sebagai anak laki-laki tunggal memang sukar untuk ditolak permintaannya, takut kalau terjadi musibah yang tak diharapkan. T. Dipermandikan: “Aloysius” tercantum dalam sepotong kertas yang diserahkan sewaktu permandian, hanya ia sendirilah yang tahu siapa yang menyarankan nama itu dan mengapa.                    

                 

                                                                                                 Blitar, 1929

 

                                                                                                 A. B.

 

[Diterjemahkan oleh Romo Sastropranoto CM]